ANTIK

bersepeda di kampung

Matahari sudah hampir di atas kepala, pembeli mulai berkurang dan penjual juga sudah mulai bisa beristirahat merapikan barang dagangan sambil menunggu saat zuhur. Di salah satu sudut lorong pasar tampak tiga orang yang sedang berbincang serius.

"Kami tahu abang yang layak, bang. Bukan dia," ucap Saman berapi-api. Keringat menjagung di dahi pedagang mainan Pasar Sompor itu. Diliriknya sekilas wajah 2 orang lain yang menemani lelaki berbadan tegap itu. Mereka mengangguk-angguk tanda dukungan.

Zaldy resah. Ada gemuruh aneh yang tetiba menyeruak menyerbu dadanya. Gemuruh yang berusaha ia tolak sekuat tenaga. Namun sisi manusianya tak bisa ia dustai. Menjadi anggota dewan yang terhormat, siapa yang tak tergiur?.

Zaldy masih saja bimbang untuk menentukan keputusan. Walau sisa-sisa didikan pesantren di masa SMP dulu membuat Zaldy tahu, jabatan itu amanah. Laksana meletakkan bukit Uhud di atas kepala, atau meletakkan satu kaki di surga, satunya lagi di neraka. Mengingat itu, terbayang wajah teduh Kyai Ma'ruf yang jenggotnya panjang memutih laksana Dumbledore di sekolah Hogwart.

Tangan-tangan Zaldy masih mengelap sepeda antik warisan sang kakek yang penjual beras keliling. Kilau sepeda tua itu berpendar ditimpa cahaya matahari dhuha.


"Kita jalan sesuai aturan hukum ajalah Kang Saman. Suara terbanyak setelah Pak Triman 'kan emang Bang Kinan. Biarlah Bang Kinan yang menggantikan beliau," kata Zaldy akhirnya, sambil tangannya terus menggosok setang sepeda yang entah untuk berapa ratus kalinya.

Sebuah jawaban yang terasa kurang memuaskan. Tak membuat tenang semua kalangan, termasuk Zaldy sendiri. Kemanusiaannya itu. Hasratnya itu. Jika ia menjadi anggota dewan, yayasan yatim piatu dan dhuafa miliknya akan bisa lebih mudah mendapatkan dana. Atau, komunitas sepeda antik yang ia dirikan bersama teman-teman di kampungnya akan lebih eksis dan terpublikasi. Atau.... Begitu banyak harapan di kepala Zaldy. Tapi sisi hatinya yang lain menolak keras dengan alasan, bagaimana bila terjadi sebaliknya?.

Dan dirasakannya hari-hari terakhir ini menjadi tak karuan baginya. Walau setenang mungkin ia berusaha pasang sikap dan wajah di depan "konstituen" yang selama ini mengerumuni aktivitasnya setiap hari.


Lamat-lamat Zaldy mengayuh sepeda antiknya. Rantai yang baru saja diberi oli, kilau polesan pada rangka sepeda, kemeja batik dan celana formal, membuat Zaldy merasa laksana Oemar Bakri. Terlebih ini perjalanan Zaldy menuju sebuah Sekolah Menengah Pertama di sebuah sudut desa. Bedanya, Zaldy memakai tas ransel, beda dengan guru Oemar Bakri, sosok fiktif gubahan penyanyi yang sekarang suaranya jauh lebih fals di masa senja.

Sapaan Zaldy kepada Kong Roman penjaga kuburan dan penjual buah lokal. Lapak warung uduk Mak Rodiah yang setia memberikan 2 ketan bumbu kegemaran Zaldy sejak dari bocah. Senyuman Bang Asmuni, yang bernama asli Rojak, karena memelihara kumis bak Asmuni pelawak Srimulat meskipun menurutnya lebih mirip Charlie Chaplin. Suara Mpok Ade, penjual rajungan dan udang sawah khas kampung Bojong Rompah. Sungguh harmoni pagi yang menyentuh nurani bagi Zaldy.


Dinda tau saat ini akang gak bisa mendengarkan suara nurani karena gemuruh dan luapan emosi.

"Akang jangan terpengaruh sama suara-suara teman akang yang akang sebut suara aspirasi. Akang banyak ngajarin Dinda tentang belajar mendengarkan suara hati. Dinda tau saat ini akang gak bisa mendengarkan suara nurani karena gemuruh dan luapan emosi. Dinda minta, besok akang coba naik sepeda ke sekolah. Akang dengarkan suara-suara sepanjang jalan menuju sekolah," begitu percakapan Zaldy dengan istri tercinta, Via yang dipanggilnya dengan panggilan sayang, Dinda.

Dan inilah kiranya, pagi ini Zaldy menaiki sepedanya ke sekolah, kegiatan yang rasanya terlalu lama ia tinggalkan karena lebih sering memilih mengendarai sepeda motor. Dan memang benar, suara-suara jalanan yang diam-diam sangat ia rindukan itu kembali menyapa telinga, menyentuh hati dan memeluk jiwanya. 

Suara-suara yang penuh warna, penuh keikhlasan, apa adanya, dan sebuah harmoni dari Tuhan yang mampu memberi jutaan hikmah kehidupan. Pelajaran mahal yang tak akan ia temukan dalam sekolah manapun. Suara-suara jalanan yang tak akan ia temukan bila ia menjadi anggota dewan.


Zaldy menghentikan laju sepeda antiknya. 50 meter di depan gang tempat ia telah 5 tahun mengabdikan dirinya. Menyambut remaja-remaja polos dengan seragam putih biru yang menyalaminya.

Menuntun lamat-lamat sepeda antik itu menuju area parkiran di sekolah. Mata Zaldy nanar menatap sudut belakang sekolah yang masih menghampar hijaunya area sawah. Titik-titik embun pagi yang menjadi pelangi terkena cahaya mentari pagi. Kabut tipis yang masih memeluk mesra suasana kampung. 

Lalu ekor matanya seolah menangkap sosok tua namun masih terlihat gagah menuntun sepeda antik miliknya. Tersenyum lebar memamerkan deretan gigi kehitaman efek tembakau. Dua karung beras tergantung di dua sisi sepeda antik yang kokoh dan berkilau memantulkan berkas sinar mentari. Tegap langkah kaki Zaldy menuju ruang kelas, langkah pasti yang kini tak ragu lagi.

#maks

Penulis: Sri Suharni


2 Komentar

  1. Penggubah umar bakri kenapa jadi lebih fals bang? apa karena sudah tidak di seberang istana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demikian apa adanya yang digambarkan oleh penulis, maknanya terserah yang baca hehehe

      Hapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama