Sttt... Saya Pernah Jadi Tukang Sampah

 Saya Pernah Jadi Tukang Sampah
Kata orang, hadiah terbaik dari kerja keras bukan dilihat dari apa yang didapatkan, tapi menjadi apa dia berkat kerja kerasnya.
Quote di atas membuat saya ingin cerita sedikit kisah masa lalu yang mengajarkan saya apa arti kerja keras. Saat itu memang saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali sedikit uang lelah, tapi pengalaman itu membuat saya bisa membedakan antara kemalasan dengan ketidakmampuan, keduanya mirip tapi jauh bedanya :)
__________

Tengah malam, sekitar tahun 1993-1994, ketika orang-orang sudah mulai bersiap untuk tidur, saya bersama teman mengaji saya; Rohim Adnan, justru mulai bersiap-siap bekerja. Biasanya kami mulai bekerja menjelang tengah malam dan baru selesai dini hari.

Kerja apa di tengah malam? Kerjanya mengangkut sampah dari rumah ke rumah di lingkungan RT hingga gerobak ringkih kami yang terbuat dari kayu dan triplek penuh sesak sampai luber berceceran.

Kegiatan ini sengaja dilakukan malam hari dengan alasan, selain untuk menghindari panas dan ramainya lalu lintas jalan, juga agar tidak banyak orang yang perlu tahu apa yang kami lakukan. Tetangga cukup tahu sampahnya bersih, sehingga tidak malas membayar uang kebersihan yang dikelola Pak RT. Lagi pula kasihan Pak RT kalau sampai dimarahi Kak Seto karena mengeksploitasi tenaga "remaja tanggung" :D

Gak usah diceritakan soal aroma dan bentuk sampahnya, nanti bisa merusak nafsu makan. Yang tersisa tinggal kenangan luka-luka di tangan dan kaki akibat goresan atau tusukan kaca dan besi limbah rumah tangga ini. Tapi tidak sampai melukai hati kok :)

Kemudian setelah gerobak sampah penuh, 2 anak belasan tahun ini mendorong gerobak kayu itu sejauh 1 Km lebih menyusuri Jalan Basuki Rahmat yang belum selesai dikerjakan ke tempat pembuangan sampah sementara. Saat ini jika saya melintas di Flyover By Pass dari Pasar Gembrong ke Cawang, saya masih bisa melihat sekitaran lokasi itu, masih kumuh seperti 30 tahun yang lalu. Lokasinya pinggir Kali BKT dekat Samsat Jakarta Timur.

"Ekstra kulikuler malam" inilah yang membuat saya sering tertidur di sekolah. Lagipula, mungkin guru dan beberapa teman lebih suka saya tertidur, karena lebih sedikit menimbulkan masalah :D

Bagaimana dengan Adnan yang dulu biasa dipanggil Garong sekarang?

Kalau sekarang Adnan menjadi orang sukses, saya percaya itu berkat keuletan dan mental kerja kerasnya yang tidak kenal alasan untuk menyerah. Darinya saya banyak belajar bahwa dunia ini tidak keras hanya saja kita yang terlalu lembek, seperti kata Fahri Skroepp :)

Apa yang bisa dipelajari dari teman saya ini?

Tentukan Tujuan Jangka Pendek dan Kerjakan

Dari Adnan saya belajar mengenai strategi kehidupan. Benar bahwa setiap orang memiliki cita-citanya sendiri, namun cita-cita adalah sebuah tujuan jangka panjang yang membutuhkan proses dan waktu yang lama. Kalau cita-cita adalah puncak gunung, maka tujuan jangka pendeknya mungkin adalah bukit-bukit yang musti dilalui untuk mencapai puncak.

Kadang tujuan yang terlalu besar dan luas justru membuat kita tidak tahu harus memulai dari mana, dan terlalu lama dalam kebingungan seperti itu akan berakibat meruntuhkan motivasi untuk bekerja keras di awal perjuangan (demotivation). Oleh karena itu, daripada fokus pada hal-hal besar, kita bisa memulai dengan memecahnya menjadi tujuan-tujuan jangka pendek. Dengan menentukan tujuan jangka pendek, kita bisa merencanakan langkah-langkah kecil untuk bekerja keras meraih tujuan tersebut sedikit demi sedikit.

Membuat tujuan jangka pendek juga bisa memudahkan kita untuk memotivasi diri sendiri dalam bekerja keras. Setiap kita berhasil meraih satu tujuan jangka pendek tersebut, jangan ragu untuk merayakannya untuk mengapresiasi diri. Mencapai tujuan besar di masa depan memang berat, tapi dengan memecahnya menjadi tujuan jangka pendek, kita bisa bekerja keras dengan cerdas dan lebih menyenangkan.

Apa tujuan "Jangka Pendek" dari profesi pengangkut sampah?

Dari sudut pandang Adnan, profesi hanyalah sebuah alat (tool) untuk mencapai tujuan jangka pendek. Saya berasumsi tujuan jangka pendeknya adalah "kemerdekaan finansial" dengan cara menambah pemasukan

Menimbang situasi dan kondisi saat itu, profesi yang memungkinkan untuk mendapatkan penghasilan tambahan adalah menjadi pengangkut sampah, tanpa ragu ia mengambil kesempatan itu dan berkomitmen dengan pilihannya.

Dengan latar belakang seperti itu, pilihan profesi tidak menjadi masalah, selama tujuan utama untuk menambah penghasilan terpenuhi. Menunggu atau mencari profesi yang sesuai keinginan hanya menghambat atau memperlambat pencapaian tujuan. Dari sini saya juga belajar untuk fokus pada tujuan, bukan pada alatnya.

Di sini saya menjadikan profesi sebagai alat, bukan proses kerja. Profesi adalah kesempatan atau peluang, sedangkan prosesnya adalah kerja keras yang membutuhkan semangat dan komitmen.  Profesi bisa berganti namun mentalitas pekerja keras akan tetap sebagai karakter yang melekat dan menjadi salah satu kunci sukses apapun profesinya. Semoga bisa membedakan yah. 

Sukses selalu kawan :)




komentar

Lebih baru Lebih lama