PAK JI


PAK JI
Kebayang enggak sih, saat kita merasa enggak punya salah, lalu tiba-tiba kita dijebloskan ke penjara selama puluhan tahun tanpa proses pengadilan selayaknya (untuk mendedahkan pembelaan), padahal tuduhannya sangat serius, dan tidak berdasarkan bukti akurat?

Pak Ji mengalaminya. Tak hanya menghuni Pulau Buru sebagai tahanan politik bersama Pak Pramoedya Ananta, tetapi hingga akhir hayatnya harus menanggung stigma PKI. Bayangkan, 54 tahun!

Pak Ji meninggal tanggal 4 Agustus, dan baru pada tanggal 15 Agustus 2019 datang Surat dari Komnas HAM yang menyatakan beliau tidak terlibat G30S/PKI! 
Sungguh ironi yang pahit...

Tetapi hidup memang penuh ironi, dan selalu begitu.

Dulu, kami meminta tolong Pak Ji menjadi tukang kebon kami. Gajinya Rp200.000,00 per bulan. Minimalis sekali. Makanya kami hanya memintanya "ngrumat" kebon kami seminggu dua kali.

Tetapi Pak Ji datang hampir tiap hari. Katanya enggak apa-apa, karena di rumah pun tidak banyak yang bisa dikerjakan. Dan kantor kami kebetulan mengontrak rumah di Nitikan Baru yang memiliki halaman belakang seluas 1.000 meter persegi. Kami membangun saung bambu beratap jerami, kandang kelinci, dan bercocok tanam aneka rupa.

Ternyata Pak Ji hobby membaca, setiap kali jam istirahat, atau saat kami tinggal untuk salat Jumat, beliau pasti memanfaatkan waktunya untuk melahap buku-buku di perpustakaan kami. Perpustakaan kecil saja, tapi koleksinya lumayan.

Yang membuat saya senang adalah karena Pak Ji tidak rewel masalah uang. Dikasih kerjaan tambahan tidak pernah menolak. Pokoknya enggak bikin bangkrut kantor lah... Maklum saya yang tugasnya jadi bendahara.

Selain di kantor, Pak Ji juga menjadi andalan saya saat membuka toko buku, salon konseling, butik batik, kaos sablon, hingga warung gado-gado. Saat kostan pacar saya bocor, Pak Ji juga yang mbenerin.

"Itu mbak Nova tadi berani naik ke atap, engga seperti mas Heri yang biasanya hanya berani megangin tangga di bawah..."

Sssttt... jaga sebagai rahasia ya, Pak Ji!

Lima tahun kemudian ketika kami menikah dan bisa mencicil rumah mungil di Bekasi, Pak Ji sempat bertandang ke rumah kami. Menginspeksi dan memberi masukan agar aliran udara lebih lancar.

Saat itu, kantor lama kami sudah bubar. Saya memutuskan jadi PNS. Dua orang teman mengambil S2 lanjut S3 di Inggris. Satu orang ambil S2 ke Belanda. Ada juga yang ambil S2 ke Malaysia. Dan beberapa orang memilih terjun ke politik praktis.

Setelah sekian lama, pertemuan dengan Pak Ji terasa canggung. Pak Ji sepertinya belum sepenuhnya mengerti mengapa anak muda idealis seperti saya kok bisa-bisanya mengabdikan diri menjadi PNS. Yang citranya tidak begitu baik. Dan, berseragam (yang ini tentu subjektif beliau, karena seragam mungkin diasosiasikan dengan kesewenangan).

Tapi Pak Ji memahami setelah saya sampaikan 2 alasan. Satu alasan tidak mungkin saya ungkap di sini, dan satu alasan lainnya, karena instansi yang saya masuki ini adalah instansi istimewa yang sepertinya serius dengan reformasi birokrasinya. Justru di sini saya punya kesempatan membuktikan bahwa stigma yang selama ini melekat bahwa PNS itu malas, berintegritas rendah, dan sifat negatif lainnya adalah keliru.

Pak Ji senang dan percaya bahwa saya akan berjuang untuk alasan kedua itu.

Dan itu adalah saat terakhir kami bertemu beliau.

PAK JI

Sebelum kabar duka itu, sebenarnya pernah pula saya dengar 2 kabar gembira. Bahwa beliau akan mengucapkan syahadat dan akan menikah.

Kabar pertama memang terjadi, tetapi kabar yang kedua sepertinya batal karena suatu alasan.

Hari ini tepat 3 bulan beliau berpulang. Semoga jiwamu tenang di sana, Pak Ji. Semoga di sana ada jawaban atas semua ketidakadilan yang terjadi di dunia ini...

Dan ya, meskipun hanya sebentar mengenalmu, kisahmu telah menguatkanku. Seperti saat ini, saat aku merasa dunia tak adil kepadaku.

Pak Ji sudah membuktikan bahwa guncangan luar biasa kaleng Khong Guan tidak menghancurkan rengginang di dalamnya.

Yang aku hadapi hanya guncangan kecil semata. Yang hanya akan merontokkan beberapa butir rengginang.

Dan aku akan menjadi rengginang yang kuat. Bukan rengginang rapuh, apalagi remah-remahnya.

Terima kasih, Pak Ji!
I love you full!

-----------
Penulis: Heri Winarko. 
Selasa, 4 November 2019.


Artikel ini memiliki 4 Komentar

  1. Kayak masih ada yang kurang dari kisah ini. Tragis tapi masih blm buat sakit di benak🥺🥺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bukan kisah tragisnya yang digarisbawahi om, tapi hikmah kisah itu dan bagaimana kisah itu menginspirasi hidup orang lain :)

      Hapus
  2. Kalau memposisikan diri jadi pak Ji, rasa2nya jarang yg kuat, ternyata kadar ujian itu memang beda tiap manusia, bersyukurlah kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mas, bersyukurlah kita, semoga Pak Ji tenang dalam peristirahatannya. Amiin

      Hapus