Menjawab Pertanyaan "Penting Atau Tidak Penting?"

Kopi Hainam Jakarta
 Kopi Hainam Jakarta 
Perbincangan santai saat ngopi sore ini seperti biasa, mengalir tanpa pola, sambung menyambung sampai akhirnya waktu menjelang magrib datang.

Istilah "zaman susah" atau "zaman sulit" sudah lama saya tidak dengar. Kembali terdengar ketika salah satu kawan sedang flashback masa lalunya dengan kalimat "dulu saat di zaman susah".

Saya paham istilah itu dimaksudkan atau hanya ungkapan saat-saat ybs sedang menjalani masa-masa mudanya yang tampaknya tidak lebih buruk dari yang saya alami. 

Siklusnya mirip, lulus sekolah (SMA), menganggur, kuliah, menganggur lagi lalu keluar masuk pekerjaan hingga akhirnya bertahan pada profesi yang sampai sekarang masih dijalani.

Saya sendiri saat flashback masa-masa itu lebih suka menyebut dengan istilah "masa revolusi fisik" atau "zaman perjuangan", karena keadaan situasi dan kondisi saat itu mengharuskan saya menjalani hidup dengan sederhana dan prihatin.

Tapi apakah tepat menyebut masa-masa itu adalah "zaman susah?". Bagi saya tidak ada zaman susah atau zaman senang, semua sama saja dan punya tantangannya sendiri.

Dulu kita berjuang melamar pekerjaan sana-sini, keluar masuk dan mencoba berbagai profesi hingga akhirnya bisa kredit rumah, kredit kendaraan dan lain sebagainya. 

Sekarang pun belum selesai perjuangan, anak-anak semakin besar sehingga semakin banyak kebutuhannya. Kesehatan sudah semakin menurun sehingga mulai sering bolak-balik klinik atau rumah sakit dan seterusnya.

Kalau mau berpikir tentang zaman susah, yah menurut saya baik dulu maupun sekarang tidak ada bedanya, sama-sama zaman susah, hanya beda tantangan yang dihadapi. Begitu juga kalau kita bicara "zaman senang", baik dulu dan sekarang kita bisa menikmati semua dan bersenang-senang.

Berbicara soal kesenangan hidup itu benar-benar sulit mencari standar bakunya. Semua berpulang kepada pribadi masing-masing, kepada standar kebutuhan, gaya hidup, persepsi masing-masing dll.

Ada yang memiliki standar hidup sederhana dengan kebutuhan hidup yang sederhana pula, mereka akan senang jika kebutuhan mereka yang sederhana itu sudah terpenuhi, lebih dan kurangnya itu sudah menjadi rahasia Ilahi. 

Demikian juga ada yang punya standar hidup yang tinggi, dia akan senang jika keinginannya tersebut terpenuhi. Selama dia bisa mengukur kemampuan diri sendiri dan dapat memenuhinya sah-sah saja memiliki target-target hidup yang mungkin bagi orang lain berlebihan.

Buat saya semua kembali ke prioritas, dulu waktu belum paham teori SWOT, 4 Kuadran waktu Penting dan genting hidup saya mengalir bukan dengan tanpa beban. Prioritas-prioritas tetap ada sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan ekonomi.

4 Kuadran waktu Penting dan genting

Menjadi pengamen dan tukang bangunan saya lakukan karena pada saat itu, situasi dan kondisi yang memungkinkan hanya itu. Pastinya mau kerja kantoran atau jualan, tapi belum ada kesempatan seperti itu.

Tapi ternyata setelah dijalani, mengamen itu membuka peluang saya untuk mengenal banyak karakter orang, belajar membaca bahasa tubuh dan yang lebih penting belajar mengenal dunia entertainment kecil-kecilan.

Dari pengalaman sebagai tukang bangunan juga saya belajar yang namanya teamwork, sedikit teknik sipil, jadi tau pentingnya profesi arsitek dst.
Penting nggak penting, buat saya pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman seperti itu membuat saya lebih tertarik lagi untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan tentang segala hal. Tapi kalau ditanya, apa semua itu penting? 
Kalau menurut saya, pertanyaan "penting atau tidak" adalah pertanyaan relatif yang akan berpulang ke prioritas, nilai-nilai, situasi dan kondisi masing-masing, sehingga jawabannya bisa berubah seiring berubahnya prioritas hidup seseorang.

Soal prioritas ada baiknya kita mengenal tentang Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow seperti yang saya bahas di tulisan puasa sebagai vaksinasi virus akal budi.
Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow
Namun begitu kalau pertanyaan "penting atau tidak" perlu di jawab maka jawaban saya adalan PENTING tapi TIDAK GENTING. Penting tapi tidak genting berarti masuk ke kuadran 2. 

Aktivitas di kuadran 2 memiliki ciri: pencegahan, aktivitas kapasitas produksi, pengembangan hubungan, pengenalan peluang baru, perencanaan, rekreasi dst. Hasil dari kegiatan di kuadran dua antara lain: visi, perspektif, keseimbangan, disiplin, kontrol, beberapa krisis. Demikian menurut teorinya, prakteknya silakan resapi masing-masing.

Kalau orang lain menganggap itu tidak penting, maka anggapan seperti itu boleh dipertimbangkan tapi bukan untuk diperdebatkan. :)

Begitu saja dulu catatan akhir pekan ini.

Salam



Klik untuk komentar