Lamunan Kopi Sore Dan Mata Indah Bola Pingpong

Lamunan Kopi Sore Dan Mata Indah Bola Pingpong

Mungkin kelak orang akan paham betapa mewahnya memiliki waktu untuk diri sendiri, dan kesendirian pun tidak selamanya berarti kesepian. Seperti sore ini, saat matahari mulai dipeluk langit jingga di ufuk barat. Surya semakin tenggelam menyisakan gelap di atas langit Tarumajaya Bekasi.
Entah berapa lama kesendirian ini bisa kunikmati, rona temaram lampu yang selalu menyala kini semakin  jelas, pertanda magrib akan segera tiba.

Sengaja aku datang lebih awal dari waktu yang disepakati agar bisa menikmati suasana sore lebih pribadi. Ternyata tidak selama yang kuduga. Seorang tukang pos dengan senyum ramah mendatangiku lalu duduk berhadapan di kursi besi kafe, dibuka tasnya lalu memberikan sebuah surat , "surat dari pujangga" katanya berusaha menjelaskan. Penjelasan yang tidak berarti, karena aku malah tambah bingung mendengar penjelasannya itu. Baiklah, sebut saja pujangga yang tidak kukenal.

"Aku tak lagi menemukan ibu-ibu yang mencari kutu di kepala" ujarnya putus asa. Kemudian ia memberikan pula 2 buah kantong plastik. Tatapan matanya begitu lekat dan tampak akrab, tapi aku gagal mengenali wajah tukang pos yang jelas lebih muda dari aku ini.

Aku tak tahu musti berkata apa, senyum ramah dari wajah lelah yang putus asa itu jelas telah berhasil mengunci logika untuk sekadar bertanya, siapa pengirim semua ini?. Kemudian tukang pos itu meninggalkanku tenggelam dalam banyak pertanyaan yang menggantung. Bergegas langkahnya pergi, postur tubuhnya tegap seperti seorang olahragawan itu berjalan menjauh dan hilang di keramaian sore.

Setelah kubuka, tas plastik kresek hitam berisikan kotak-kotak nasihat dan satu plastik lagi yang transparan berisikan naskah adegan-adegan sebuah drama atau sandiwara, setidaknya demikian yang aku duga. Dan telah berkali-kali aku baca surat berisi puisi itu tanpa paham apa yang dimaksudkannya. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk dapat memecahkan rangkaian kode-kode berbentuk kalimat sastra yang pastinya berisikan makna, entah apapun itu. 
"Atau mungkin belum saatnya" batinku, seperti mewakili suara dari surat yang misterius ini.

"....Kalau kau sudah siap, kepakkan sayapmu
Aku menunggu di balik beribu awan itu
Meski tak sempat bicara rindu pada angin 
yang mungkin bisikkan cinta hanya sampai pada daun telingamu
Tak apa!
Belum saatnya kau tahu sayang."

Aku tersenyum kecil, "Yah antara belum saatnya atau sudah kadaluarsa" batinku. Kulipat kembali surat itu dan kumasukkan ke dalam tas. Dua plastik lusuh dan misterius itu kusimpan di bawah meja kafe agar tidak mengganggu pemandangan. Matahari sudah terbenam, lampu-lampu penerang jalan yang menghias berjajar mulai menyala mewarnai kanvas kehidupan yang tidak pernah beristirahat. Di lain sisi, lampu-lampu kendaraan dan sesekali bunyi klakson melontarkan berbagai cerita yang meramaikan sepiku. Yah aku sendirian, tapi bukankah semua juga sendirian?.

Pelayan kafe mendatangiku, kupesan kopi Arabika Java Preanger untuk menemaniku menyambut malam yang masih muda.
"Masih ada waktu menikmati kesendirian sebelum Ratna datang" gumamku sambil memeriksa jam di ponsel.

Sayup petikan gitar lagu Now and Forever - Richard Marx terdengar, seperti menambah kekuatan bagi kenangan-kenangan itu untuk mencoba menerobos pikiranku. Ini pasti konspirasi alam, lagu itu seperti sengaja diputar untuk menemaniku menunggunya.

Berbagai kenangan-kenangan mulai hadir, beberapa yang masih melekat kuat langsung hadir lengkap dengan senyum manis dan tatapan berbinar dari mata indah bola pingpongnya. Apalah dayaku, kenangan-kenangan itu adalah bagian kecil dari masa lalu yang paling menyenangkan untuk diingat kembali dari sebagian besar kenangan yang kurang menyenangkan.

"Sudah lama?" tanyanya membubarkan lamunanku.
"Eh, yah, baru, ini kopiku saja masih penuh" jawabku gugup.
"Maksudku sudah lama melamunkan aku?" tanyamu kembali.
"Hahahahaha" hanya tawa yang keluar setelah sempat sekian detik tertegun mendengarnya menanyakan itu. 
"Kamu sendiri sudah lama duduk di situ?" tanyaku berusaha mengendalikan perasaan.
"Yah, lumayan, gak tega merusak lamunanmu hehehe" jawabnya sambil memanggil pelayan dan kemudian memesan Thai Tea untuk menggantikan teh melati kesukaannya.

Aku lebih banyak diam mendengarkan, cerita-ceritanya yang mengalir tenang tanpa henti seperti ombak Pantai Indrayanti dan sebagian besar Pantai Utara Jawa lainnya. Ceritanya mulai dari bisnis rumah makan seafood yang ia rintis, penginapan, percetakan hingga rencana-rencana ke depan lancar terucap. Semua terencana dan tertata dengan rapih. Aku menyimak, hanya memberi komentar saat ditanyakan saja.

Teringat cerita dari adiknya tentang keinginannya untuk tinggal di pantai atau danau, di mana pun yang ada unsur air. Kini impian itu sudah mewujud menjadi kenyataan, hidup memang akan sangat baik pada beberapa orang namun juga dapat sangat kejam. Untuk Anna aku tidak bisa memberikan opini tentang jalan hidupnya, lebih 20 tahun kami terpisah dan kini skenario kehidupan kembali mempertemukan kami sebagaimana adanya saat ini. 

"Suamimu mana?" tanyaku ketika ia mulai bertanya tentangku.
"Sedang bertemu suplier onderdil jetski di Ancol, kalau cepat selesai dia akan menyusul kita" jawabnya sambil menikmati Thai Tea beraroma rempah.
"Kalau begitu aku akan pulang sebelum dia sampai hahaha" sahutku cepat.
"Loh kenapa? aku sudah sering kok cerita tentang kamu, gapapa kok".
"Aku gak akan bisa menyembunyikan cemburuku kalau bertemu suamimu, hahaha".
"Ah kamu itu, biasa saja kenapa sih" ketus  tanggapannya tapi tidak ada intonasi marah. 

Lalu aku ceritakan tentang apa yang terjadi sebelum ia datang. Mengenai puisi dan 2 kantong plastik misterius dari tukang pos yang juga tak kalah misteriusnya. Aku tahu, Anna bukanlah tipe kutu buku yang gemar membaca, tapi ia cukup akrab dengan berbagai jenis bacaan dan sepanjang yang kutahu, ia lebih suka film.
"Aku suka nasihat-nasihat ini, sudah ada gambaran tentang siapa yang membuatnya?" tanyanya sambil membaca satu-persatu kertas nasihat yang tersimpan dalam kotak-kotak terbuat dari triplek sebesar tempat tisu.
"Entahlah, aku belum mau memikirkannya saat ini". Jawabanku membuatnya mengangguk dan tersenyum simpul.
"Boleh buatku saja? Kamu sepertinya tidak butuh nasihat-nasihat ini deh" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan ke kertas-kertas yang dengan cepat ia lihat sekilas satu per satu. 
"Hmmm boleh, tapi aku masih butuh nasihat kok, bagaimana kalau kamu yang membacanya lalu nanti kalau aku butuh nasihat aku akan menghubungi kamu dan kamu membacakannya untuk aku"
"Kok terdengar seperti modus yah? hehehe, yo wis ini buat aku saja" jawabnya lirih tanpa mengalihkan pandangan.

Malam semakin larut, kopiku yang sudah mulai dingin masih enggan kutuntaskan. Aroma kopi dan semua kenangan itu masih tersimpan rapih walau sudah sekian tahun berlalu. Lagu Doping dari Garux Band yang kerap kunyanyikan di ujung gang dekat rumahnya saat kami remaja sudah berganti lagu Selamat Tinggal Masa Lalu dari Five Minutes.

"Anna aku sedang butuh nasihat" tulisku melalui aplikasi perpesanan WhatsApp.
"Kalau butuh nasihat dari kotak nasihat aku akan fotokan, kalau mau dengar suaraku aku rekam voice chat, kalau ingin ngobrol nanti saja, aku masih sibuk urus catering, ba'da zuhur saja kita ngobrol :)"
"Siap ndan :) abis zuhur aku WA lagi yah".
"Ok, ttyl*".
Sejenak kupandangi foto profil WhatsApp-nya. Anna yang ayu dan suaminya yang gagah. Aku pernah melihat wajah itu... senyum ramah itu... aku tidak akan lupa tatapan akrab si tukang pos pengantar surat misterius itu. []

---

*ttyl - talk to you later
Inspired by: belantarakoma.blogspot.com
Foto: kak-dean.blogspot.com


Klik untuk komentar