Belajar Besama Dan Saling Asah

"Tak ada yang peduli seberapa pintar kalian, sampai mereka tahu sepeduli apakah kalian." Theodore Roosevelt
Belajar Besama Dan Saling Asah
Kutipan di atas adalah peringatan penting bahwa belajar adalah soal membangun sebuah hubungan dengan mitra belajar kita. Sekarang ini, ketika segala informasi di ujung jari kita, kita bahkan tidak perlu pergi ke perpustakaan untuk mengetahui topik tertentu, sejarah atau seorang tokoh dll, sedikit pencarian di Google, membaca Wikipedia, atau pertanyaan yang tepat untuk "Siri" dan "Google Now" atau asisten digital lainnya pasti akan menghasilkan jawaban yang tepat pada pertanyaan yang tepat.

Jadi, mengapa kita masih belajar?

Pada akhirnya belajar di era informasi seperti sekarang ini adalah tentang inspirasi, bukan informasi yang sudah banyak berserakan. Belajar yang efektif berfokus pada mengapa dan bagaimana, bukan apa. Tujuannya harus untuk memicu imajinasi semua yang terlibat, untuk menemukan "pancingan" dalam hati dan pikiran sehingga kita merasa perlu untuk mempelajari dan memahami sebuah materi. 

Selanjutnya adalah mengajukan pertanyaan provokatif, dan menggunakan semua pengalaman dan pengetahuan kita untuk membuat jalan menuju jawaban. Jika kita termotivasi untuk menemukan jalan menuju jawaban, maka semua ide-ide yang muncul harus kita hargai lalu kemudian dikombinasikan. Ini berlaku dalam hal belajar sendiri ataupun belajar bersama kelompok.

Bagaimana untuk memotivasi Kelompok Belajar?

  1. Jika kelompok kita saling memahami dan saling peduli, maka komunikasi akan lebih lancar. Diskusi yang terjadi di manapun dan kapanpun akan menjadi tempat pembelajaran yang berkualitas, ketersinggungan atas kesalahpahaman minim terjadi, sehingga ide mengalir tanpa takut dihakimi.
  2. Jangan beranggapan bahwa semua teman kita sudah paham apa ide kita. Sikap seperti ini dapat menjadi bumerang jika timbul masalah atas miskomunikasi yang mungkin akan terjadi dalam proses belajar. Jangan bosan menyampaikan tujuan dan ide dasar dari pendapat kita sampai orang-orang yang terlibat paham sudut  pandang yang kita miliki.
  3. Cari tahu hubungan yang relevan, masalah yang dihadapi dan isu yang sedang atau pernah dihadapi oleh anggota kelompok belajar. Sekali lagi bukan untuk menghakimi, tapi untuk memperlihatkan hubungan antara masalah yang pernah dihadapi itu, cara penyelesaian dan hubungannya dengan materi yang sedang dipelajari. Tanpa adanya hubungan yang relevan, saya dan Anda kemungkian besar tidak akan tertarik, diskusi materi yang tidak ada hubungannya dengan isu anggota kelompok belajar menjadi tidak penting dan segera terlupakan setelah usai pembahasan. Intinya, materi yang tidak relevan menjadi tidak penting.
  4. Terakhir, agar tetap memotivasi, jangan beritahu apa yang mereka harus lakukan, biarkan ide-ide berkembang menuju jawaban atau tujuan akhir melalui cara uniknya masing-masing. Setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda, jika dengan melakukan kesalahan adalah cara dia belajar, maka dia pantas untuk melakukannya dan tetap mendapatkan apresiasi dari kelompok belajar. Kesalahan yang seseorang angota lakukan dalam rangka belajar adalah pembelajaran bersama dan semua anggota bisa mengambil pelajaran dari sana.
Dengan dorongan ini, sering saya temukan bahwa setiap orang yang terlibat memberikan lebih dari yang pernah mereka bayangkan. Mereka merangkul gagasan menjadi luar biasa dengan antusias, dan meningkatkan keahlian baru yang mereka miliki dengan gembira tanpa takut salah. Mereka terlibat dan secara sukarela bertanggung jawab menemukan jalan keluar dan mewujudkan kesuksesan.

Jika sumbu sudah dinyalakan, maka Anda akan bertemu dengan anak-anak muda yang bergairah dan tidak bisa diam untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan berdasarkan kemampuan mereka. Jangan dihalangi, arahkan saja, energi yang mereka miliki sedang bergumul hebat dalam jiwa... seperti minuman soda yang sudah dikocok dan siap meledak.

Bagaimana merawatnya?
Sayangnya saya juga masih belajar dalam tahap ini, mungkin lain waktu kita berdiskusi lagi soal ini :)

Tulisan ini adalah adaptasi dari salah satu tulisan Tina Seelig dalam bukunya "What I Wish I Knew When I Was 20" tahun 2009. Kita dapat membaca tulisan inspiratif dosen mata kuliah Entrepreneurship Universitas Stanford ini di https://medium.com/@tseelig

#nulisrandom2017


2 komentar

avatar

Yoiii :) cemungudh eaaa hahaha udah kayak ABG ajah

Klik untuk komentar