di serambi kota(k)


"Kota bukan melulu tentang infrastruktur. Tapi tentang kehidupan masyarakatnya. Jadi bukan hanya tentang bagaimana membangun jalan, jembatan, atau gedung-gedung. Tapi justru yang terpenting adalah bagaimana membangun manusianya".

Kalau tujuan pembangunan cuma sekadar membangun infrastruktur, pasti muncul ketidakadilan di sana. Karena yang lahir adalah hutan dengan wajah yang berbeda. Yang lemah akan jadi korban. Penggusuran, penyerobotan tanah, alih fungsi lahan darat, alih fungsi sungai, laut dan seterusnya. Dengan kata lain kota ini terlahir dengan membunuh peradaban desa dan kemudian menelantarkan masyarakatnya.

Itu kah yang sedang kita lakukan saat ini?
Seperti itukah masa depan Bekasi tercinta ini?

Semakin derasnya arus informasi membuat kita terlalu sibuk memperhatikan hal-hal yang mendasar, salah satunya tujuan membentuk peradaban Masyarakat Madani. Kalau belum pernah dengar, maka definisi generik dari masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung tinggi imtak (iman dan takwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).

warga tarumajaya bekasi perbaiki jembatan
Foto by Wajah Bekasi
Masyarakat Madani menurut Muhammad. A.S. Hikam adalah wilayah-wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan antara lain kesukarelaan, keswasembadaan dan keswadayaan, kemandirian tinggi terhadap negara (smart citizen), dan keterikatan dengan norma sosial budaya serta nilai-nilai hukum yang diikuti warganya. - (http://digilib.uinsby.ac.id/8316/2/Bab%202.pdf)

Masih sejalan dengan pengertian di atas, menurut Dawam Raharjo pengertian masyarakat madani mengacu kepada integrasi umat atau masyarakat, gambaran itu misalnya terlihat melalui wujud NU dan Muhammadiyah. Dalam konteks ini masyarakat madani lebih mengacu pada penciptaan peradaban yang mengacu kepada alDin, al-Tamaddun atau al-madinah yang secara harfiah berarti kota, dengan demikian konsep masyarakat madani mengandung tiga hal yaitu agama sebagai sumbernya, peradaban sebagai prosesnya, dan masyarakat kota atau perkumpulan sebagai hasilnya sehingga terbentuk masyarakat utama atau unggul (al-Khair al-ummah).

Masyarakat yang lebih tinggi tingkat perkembangannya, yaitu masyarakat yang memiliki sistem kelembagaan dan mekanisme yang menjamin berlakunya upaya-upaya masyarakat itu sendiri untuk secara otonom mampu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dan memelihara iman. (Halaman 451 buku Intelektual Intelegensia dan Prilaku Politik Bangsa - Dawam Raharjo)

Semua ciri-ciri itu sudah ada pada masyarakat Indonesia di manapun, termasuk di Bekasi ini, tetapi perlu upaya dan kerja keras dari semua pihak untuk bekerja sama mengembalikan arah pembangunan Bekasi ini, sedikit demi sedikit menuju masyarakat madani yang seutuhnya. Menjadi Bekasi yang Baik Dan Benar.




posted on fb 160217

Klik untuk komentar