Gotong-royong di internet dengan AtmaGo

Istilah citizen journalism memang bukan istilah baru. Sekitar tahun 2014 beberapa media besar membuka kanal online untuk citizen journalism atau yang selanjutnya dikenal sebagai jurnalisme warga. Sebut saja netcj.co.id, Citizen6, kompasiana dan banyak lagi yang pada intinya memberikan wadah atau ruang bagi siapapun yang ingin memberi informasi suatu kejadian atau peristiwa dimanapun dan kapanpun.

Tujuan dari sisi penyedia kanal kemungkinan besar adalah untuk membantu menginformasikan suatu kejadian atau peristiwa yang luput dari liputannya, atau memberi wadah untuk masyarakat berpatisipasi memberitakan sebuah peristiwa yang diketahuinya.

Dalam era informasi ini, boleh dikatakan informasi apapun akan cepat kita dapat termasuk berita yang tengah terjadi dimanapun dan kapanpun. Benarkah demikian? Bagaimana jika saya ingin mengetahui apa yang terjadi di lingkungan terdekat saya, atau minimal lingkungan desa/kelurahan atau kecamatan?. Wartawan atau media mana yang mau meliput peristiwa lokal yang tidak memiliki nilai jual? Jadwal kegiatan karang taruna atau kerja bakti tingkat RW di tempat saya tinggal misalnya.

Di lain pihak saya tidak benar-benar merasa butuh akan berita-berita yang ditayangkan secara nasional, pilkada Gubernur DKI? maaf, apa urgensinya buat saya hingga media yang katanya nasional itu memberitakan sampai detail, apa gunanya buat saya yang tinggal di kabupaten Bekasi? Bagi saya lebih bermanfaat informasi KRL ada gangguan di Stasiun Cakung sehingga bisa membuat saya terlambat pulang ke rumah.

Di sinilah jurnalisme warga hadir untuk menjawab kebutuhan informasi warga yang lebih spesifik. Jurnalisme warga secara umum diartikan sebagai aktivitas jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa yang bukan wartawan. Di luar pro kontra istilah, saya lebih melihat fungsi jurnalisme warga dalam berbagi informasi lokal dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Saya masih percaya semangat gotong royong dan membantu sesama masih melekat kuat dalam setiap warga, hanya saja saluran-saluran yang ada tidak mampu mewadahi, hilangnya kepercayaan warga pada saluran-saluran yang ada ini kemudian digeneralisir sebagai sifat individualistik dan apatisme. Padahal berbagai kejadian membuktikan bahwa masyarakat Indonesia secara umum sangat cepat tanggap dalam hal gotong royong dan membantu sesama.

Pelatihan Citizen Jurnalism dan Launching Atmago App

Di dalam acara pelatihan "Citizen Jurnalism" dalam rangka launching Atmago App di Warung Daun Cikini Jakarta Pusat kemarin pun saya menangkap semangat guyub dan gotong royong yang masih kuat, semangat menyalurkan partisipasi aktif warga untuk berbagi masalah yang dihadapi dan mencari solusi.

Dalam pelatihan jurnalisme warga yang dipandu Mas Akbar Tri Kurniawan dari Tempo, beberapa ibu dan bapak bertanya antusias hingga pemateri terlihat kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selalu bersambut. Namun ketika ditanyakan berapa orang yang pernah menulis atau menggunakan AtmaGo, dari sekitar 50 hadirin hanya 3 orang yang mengakui secara terang-terangan pernah menulis di Atmago, selebihnya menggunakan Media Sosial populer seperti Facebook dan Twitter.

Bertindak sebagai pemateri, selain Mas Akbar Tri Kurniawan juga ada Pak Alamsyah Saragih (Komisioner Ombudsman RI), Pak Amin Sudarsono (Direktur Aksamala Foundation) dan salah satu founder AtmaGo, Mr Sergio Paluch.


Gotong-royong di internet dengan AtmaGo

Atmago ini media sosial apa?


Saya cukup akrab dengan berbagai media sosial yang ada. Saya menggunakan Twitter sejak tahun 2008 dan hingga sekarang saya masih menggunakannya, walau tidak terlalu intens. Twitter bagi saya adalah platform microblogging paling sederhana namun cukup memuaskan walau hanya dibatasi 140 karakter. Facebook lebih rumit karena sudah bukan lagi jejaring pertemanan seperti awal kelahirannya, Facebook telah mengalami evolusi sedemikian pesat sehingga hampir menjadi 1 stop social media service.

Lalu apa bedanya dengan AtmaGo? Apa AtmaGo dapat bersaing dengan medsos yang sudah ada?

AtmaGo bukan jejaring pertemanan seperti Facebook dan juga bukan microblogging seperti twitter. Isinya berbagai informasi warga yang dapat difilter berdasarkan lokasi. Jika Anda ingin memamerkan apa yang anda konsumsi (makanan, pakaian, traveling dlsb) mohon gunakan sosial media lain. Alhamdulillah sampai saat ini saya belum menemukan user AtmaGo melakukan hal sedemikian itu, selain tidak pada tempatnya, aplikasi AtmaGo bukan diperuntukkan untuk hal yang demikian. Dengan slogan "Warga bantu warga" saya kira sudah cukup menjelaskan mengenai apa AtmaGo sebenarnya.

Saya juga masih ingat kala pertama kali mengenal AtmaGo, Field Director AtmaGo.com di Indonesia, Alfan Rodhi Kasdar mengatakan, AtmaGo dapat digunakan untuk berbagi solusi berbagai masalah, seperti banjir, macet atau layanan publik. AtmaGo juga dapat digunakan sebagai wadah untuk berbagi informasi, seperti cara untuk memperbaiki kesehatan atau gizi. Alfan menyebut AtmaGo.com sebagai tempat untuk gotong-royong di internet.

16 Oktober 2016 kemarin Atmago launching aplikasi androidnya, katanya sih masih tahap beta. Beberapa catatan saya mengenai aplikasi ini, pertama tampilannya masih banyak menyisakan ruang, thumbnail artikel masih terlalu besar. Akan lebih compact dan informatif jika foto artikel diperkecil agar ada lebih banyak space untuk menampilkan potongan isi artikel.

Kedua, di tampilan awal (beranda) aplikasi tidak ada info waktu/tanggal kapan artikel diposting, sehingga perlu membuka artikelnya untuk mengetahui "diposting tanggal.... oleh....". Ini penting untuk melihat aktualitas informasi kapan artikel tsb ini diposting, apakah sudah sehari yang lalu, atau baru beberapa menit yang lalu, sebelum kemudian user memutuskan untuk membaca artikel secara keseluruhan. Itu saja dua, selebihnya sudah bagus kok. Tinggal menunggu penyempurnaan-penyempurnaan dan tentu saja dengan semakin banyaknya user akan lebih banyak feedback yang masuk demi perbaikan aplikasi AtmaGo ini.

Sayangnya saya tidak bisa mengikuti acara ini sampai tuntas, beberapa sesi lanjutan yang masih dalam rangkaian pelatihan jurnalisme warga ini terpaksa saya tinggalkan untuk memenuhi janji lain di tempat berbeda.

Akhir kata, sila coba aplikasi AtmaGo ini, dan manfaatkanlah sebagaimana mestinya. Saya menyambut baik dengan semakin banyaknya wadah dan saluran informasi yang tersedia ini, semoga dengan hadirnya AtmaGo dapat membuktikan bahwa semangat gotong royong dan membantu sesama masih melekat kuat di masyarakat. Amiin.

Aplikasi AtmaGo Android
Aplikasi AtmaGo di Android -->> https://play.google.com/store/apps/details?id=com.app.atmago

6 komentar

avatar

keren nih acara2 buat makin memahami citizen journalism

avatar

Iya kak, alhamdulillah banyak pelajaran didapat :)

avatar

Nyobain ah download mumpung masih pagi quota banyak, semoga manja aplikasi nya

avatar

Ayo mas, infokan kejadian di sekitar biar makin banyak konten positif :)

Klik untuk komentar