Preman, Pilkada, Obon dan kopi pagi.

Beberapa saat lalu petahana Kabupaten Bekasi menyatakan "tidak rela jika Bekasi dipimpin oleh preman". Maksud dan arah kalimat tersebut tidak sulit untuk dipahami, jika tidak paham, sila googling sebentar maka akan tahu pihak mana yang memberikan reaksi dan terusik dengan kalimat tersebut 😉

Kalimat itu silakan diartikan lain jika memang ada arti lainnya, bagi saya itu sudah masuk dalam sebuah kampanye hitam (black campaign) yang secara tidak langsung telah memperlihatkan kualitas penggunanya.

Cukup bagi saya untuk sedikit mengenal seseorang dengan apa yang ia lakukan kepada pihak lain. ie: Merendahkan orang lain untuk meninggikan dirinya sendiri adalah ciri ketidakdewasaan dan alpanya kesadaran menghormati diri sendiri dengan cara menghormati orang lain.

Terlepas dari drama gak penting itu, saya sedikit kilas balik mengingat guru matematika saya saat SMP, menurut beliau kata preman berasal dari kata freeman yang bermakna orang bebas atau orang yang merdeka. Pernyataan guru saya tersebut mungkin saja masih bisa diperdebatkan, apalagi melihat kapasitasnya sebagai guru matematika :) tapi apa iya seorang guru matematika tidak boleh menyampaikan pendapatnya, walaupun mungkin itu domainnya guru bahasa? :)

Menurut logika saya yang dangkal ini, kata freeman adalah lawan kata dari slave, orang yang merdeka adalah lawan kata dari orang yang terjajah, maknanya adalah orang yang bebas dari ikatan-ikatan yang mengekang kemerdekaanya. Kelak kemudian kata freeman menjadi preman dan bermakna peyoratif menjadi biang kerok itu soal lain, saya lebih tertarik memperhatikan makna freeman sebagai orang yang merdeka. Gak apa-apa kan? Kalau gak boleh, sila protes di form komentar 😂

Dalam konteks memilih pemimpin dalam dunia yang katanya memasuki zaman edan ini saya justru akan memilih seorang preman sebagai pemimpin. Dalam artian saya butuh pemimpin yang berani menabrak aturan-aturan yang sudah dibajak oleh kepentingan lain dan mengorbankan kepentingan mayoritas warga yang tak berdaya. Seorang preman yang tidak takut menegakkan aturan hukum yang sudah disepakati bersama. Saya butuh preman yang berani bertindak tegas jika ada oknum yang membuang limbah pabrik di sungai sumber air para petani di kampung saya. Saya butuh pemimpin preman yang berani melawan para begal anggaran dan mafia proyek pembangunan fisik yang asal-asalan dst dst.

Aturan-aturan yang dibuat hanya untuk memperpanjang pos-pos birokrasi layanan yang kemudian menciptakan area abu-abu atau lorong gelap pungli harus diterabas. Selanjutnya biarkan KPK yang menemukan ada tidaknya motif/niat jahatnya, toh nanti pengadilan yang akan menentukan, btw ini sudah beda dunia dengan yang sedang saya ocehkan saat ini. 😂

Pertanyaan yang saya gak bisa jawab dan saya ikut mempertanyakannya adalah, Siapa calon pemimpin Kabupaten Bekasi yang ideal?

Saya cemburu dengan Pilgub tetangga. Iya, Pilgub DKI memberi pilihan 3 pasang calon yang secara umum orang-orang baik. Pilbup Kab Bekasi memberi pilihan 5 Paslon (Pasangan Calon). Lebih banyak pilihan, namun sayangnya banyak pilihan belum tentu berarti lebih baik kan?, apalagi jika tujuannya adalah memecah suara lalu kemudian mengatur koalisi transaksional di putaran kedua. Sudah biayanya gede hasilnya 4L alias lu lagi lu lagi... yang saya butuh perubahan, bukan lagu lama kaset baru yang diaransemen ulang.

Dari lima Paslon yang akan bertarung dalam pilkada Kabupaten Bekasi 2017 nanti, saya masih punya 3 pilihan yang tersisa. Saya ingin perubahan, oleh karenanya saya tidak akan memilih petahana dan mantan. Ini sepenuhnya hak saya sebagai warga untuk memilih berdasarkan kehendak bebas saya, tanpa perlu dibayar atau kompensasi lainnya. Dibohongi dan kecewa dengan janji kampanye juga sudah sering kok 😉

Dari 3 paslon yang tersisa kemudian saya punya pilihan 2 calon, 1 independen dan 1 calon dari parpol. Saya cukup mengapresiasi pada ibu calon dari partai merah itu, beliau begitu rajin blusukan dan menyuarakan perubahan, tapi pada akhirnya pilihan saya akan mengerucut pada 1 Paslon independen yang saya percaya cukup berpotensi untuk membawa perubahan di Kab Bekasi tercinta ini.

Preman, Pilkada, Obon dan kopi pagi.

Siapa dia? Blessing in disguise, bukan sebuah kebetulan beberapa hari lalu saya membaca berita di twitter tentang salah satu calon yang menggalang bantuan untuk meringankan beban saudara kita yang tertimpa musibah di Kabupaten Garut kemarin.
Skeptis sih sudah default, "Ini calon Bupati Bekasi ngapain turun tangan sendiri mengurusi hal seperti itu? Itu tugasnya relawan, itu tugasnya kader par...."

Oh iya dia calon independen, gak akan ada kader partai yang akan membawa benderanya jika bukan dia sendiri yang turun.

Oh iya kejadiannya bukan di Bekasi jadi gak mengundang calon lain terpanggil untuk ikut pencitraan dan mendulang suara.

Oh iya .... Bekasi dan Garut masih satu provinsi.

Terima kasih Bang Obon Tabroni, yang turut terpanggil membantu saudara kita yang tertimpa musibah di Garut sana. Saya bukan orang Garut bang, saya orang Bekasi dan merasa bangga ada calon bupati yang mau repot-repot ke Garut sana.

Bang Obon, warga di Garut sana jelas tidak akan ikut Pilkada di Bekasi dan jelas tidak bisa memberikan suaranya untuk Abang, ikhlaskan aja yah bang, saya saja yang di sini yang akan mengikhlaskan foto kopi KTP saya untuk mendukung Abang. Jika saudara kita yang di Garut sana saja Abang urusin, apalagi kami yang masih tetangga Abang di Kabupaten Bekasi ini.

Sukses selalu bang, barakallah.


------
Baca juga : Antara aku, kau dan calon presidenmu


Klik untuk komentar