#5 curhat tukang ojek

Ikhlas adalah syarat utama sebuah ibadah, termasuk juga ibadah sosial seperti membantu sesama yang berkekurangan. Kemajuan tekhnologi telah membuat mudahnya berbagi informasi dan menjadi jembatan antara yang berkelebihan dan berkekurangan, ini salah satu berkah tekhnologi. Seorang yang jauh dapat membantu saudaranya yang berkekurangan di tempat lain yang ia tidak kenal dan tidak pernah tahu dimana letaknya.

Pertukaran informasi yang begitu masif di media sosial membuka peluang beramal yang sangat luas, begitu banyak aktifitas sosial berseliweran di jagat maya. Tidak ketinggalan di saluran perpesanan yang memungkinkan kita membuat komunitas seperti Grup BBM, Grup WA, Grup Telegram dlsb.

Beberapa grup perpesanan yang saya ikuti kerap mengajak kepada bermacam aksi sosial non profit, dari penggalangan bantuan banjir, agenda berbagi, mobilisasi donasi dan agenda-agenda bakti sosial lain yang tidak pernah sepi. Saya tidak berkelebihan harta, hanya berkelebihan waktu dan akses informasi yang beragam. Dari sinilah status tukang ojek saya ambil, bukan sebagai profesi, tapi sebagai bentuk peran serta saya dalam merayakan kebaikan.

Itu saya lagi ngojek ke Muaragembong :D. Foto: Pakde @tiktwit 
Di luar status tukang ojek, saya juga menikmati kegiatan mendokumentasikan dan memberitakan apa-apa yang saya saksikan, dengan berbagai akses media sosial dan saluran informasi lain saya selalu mencoba menyebarkan kebaikan-kebaikan yang saya saksikan. Saya percaya, informasi-informasi kebaikan-kebaikan yang saya saksikan akan menambah konten positif di hutan belantara informasi, mudah-mudahan juga dapat menjadi inspirasi kebaikan atas kegiatan-kegiatan yang patut menjadi tauladan.

Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan pemblokiran sumber-sumber informasi. Saya akui, memang begitu mudah mendapatkan informasi negatif di dunia maya, namun mengapa kita semua tidak berkontribusi memperkaya konten positif agar konten negatif terkucilkan dengan sendirinya. Kabarkanlah kebaikan-kebaikan walau sekecil apapun, mungkin bagi kita tidak penting, namun beritakanlah kebaikan-kebaikan agar dapat menjadi contoh, setidaknya dengan membanjirnya konten positif, akan menyita perhatian dan tersimpan di alam bawah sadarnya bahwa masih ada orang-orang baik yang entah siapa melakukan kebaikan-kebaikan di mana saja.

Saya tidak fasih mengungkapkan hal di atas, silahkan mencari bahan-bahan demikian dari komunitas Relawan TIK ataupun dari jaringan Internet Sehat dan lain-lain.

Kembali ke topik ikhlas. Soal ikhlas atau tidak para pelaku kegiatan sosial yang saya ikuti ini jelas bukan urusan saya. Mereka sudah membantu pihak-pihak yang membutuhkan, apa yang saya potret dari kegiatan tersebut setidaknya mengabarkan bahwa titipan para donatur yang entah siapa dan dimana telah sampai kepada mereka yang membutuhkan, sekalipun para donatur tadi mungkin tidak membutuhkan informasi tersebut.

Soal ikhlas, riya, sum'ah dan lain sebagainya itu bagi saya adalah urusan sang donatur dengan Tuhannya. Saya sendiri sangat tidak pantas merasa berjasa karena hanya bertugas memandu, hanya tukang ojek yang kebetulan suka mondar-mandir tidak jelas ke daerah-daerah pelosok yang kerap menjadi sasaran kegiatan sosial. Tidak jarang saya diberikan kompensasi atas apa yang saya lakukan, saya terima dengan senang hati agar mengukuhkan dan sadar akan posisi yang saya ambil :)

Saya hanya mengantarkan bantuan dari orang-orang yang atas permintaannya tidak ingin disebut namanya, saya publikasikan agar yang menitipkan itu tahu bahwa titipannya sudah saya sampaikan dan jelas bahwa saya tidak lebih dari pengantar alias tukang ojek, jika pun ada pujian dan ucapan terima kasih di sana, menurut hemat saya semua itu lebih pantas tertuju pada si pemberi, karena saya telah mendapatkan "imbalan" atau "ongkos kirim" yang lebih dari cukup.

Jika saya dikatakan riya.... saya justru bingung, apa yang saya hendak banggakan dari seorang kurir bayaran? 
Jika anda menerima barang dari kurir Gojek, JNE, GrabExpress, kebanggan kurir adalah menyampaikan barang titipan ke tujuan, mereka dibayar untuk jasa itu, dan mereka membangun reputasi atas menjaga kepercayaan si pengirim barang. Saya.... belajar dari mereka loh. 

Soal status media sosial dimana saya sering mengunggah foto-foto kegiatan sosial, itu adalah tanggung jawab saya sebagai kurir. Gak ada urusan untuk di like atau dikomentari berlebihan :D motif lainnya... semoga Anda terinspirasi melakukan kebaikan-kebaikan yang saya sudah bagikan, lupakanlah si kurir yang rada narsis ini :p 


Salam
Been paid to be good :)

5 Ramadan 1437 (2016)


Klik untuk komentar