Lamunan Tentang #Kamu


Lamunan Tentang Kamu
Betapa hari-hari di era informasi ini memberikan segala macam kemudahan mendapatkan berita dan cerita yang semuanya seakan penting untuk diperhatikan, nyatanya semakin diperhatikan semakin aku jauh darimu, pun tak ada berita dan cerita itu yang sepenting berita tentangmu atau cerita tentangmu sesederhana apapun itu.

Kamu tahu apa yang penting dalam hidupku? kamu, kamu dan kamu. Depan, kanan dan kiri ada kamu, hanya belakang, atas dan bawah yang tidak tentangmu. Sedangkan aku enggan berbalik ke belakang, menatap ke atas ataupun ke bawah.

Pusaran perhatian selain padamu hanya membawaku semakin jauh darimu, kesepian dalam keramaian, hampa mengisi hari-hari dan memenuhi fikir.

Disudut sepi barulah aku tersadar betapa jauh kita dipisahkan. Diantara kesepian itu banyak hal yang menawarkan kedamaian sementara, di jalanan, di kafe, di ruang temaram beraroma dan segala macam hiburan pelarian yang mencoba mengisi kekosongan. Padahal jawabannya adalah dekat dengan kamu.

Hanya dengan mengingatmu, hanya dengan dekatmu kekosongan yang sesak ini tersembuhkan, damai....

Kamu.... Tak ada yang istimewa pada dirimu, sederhana menjalani hari-hari sebagai manusia biasa yang mencoba bertahan hidup diantara hempasan ombak kenyataan. Namun dalam kesederhanaan itu ada keindahan, ada tangis, ada senyum. Kamu begitu hidup, terluka, terhempas, bangkit kembali, melangkah ikhlas menjalani peran sebagai manusia yang terikat nilai-nilai sosial. Anggun dalam keterbatasan, melangkah tertatih menapak kerikil kehidupan.

Aku merasa palsu, keluhuran yang selama ini kupercaya tak lebih hanyalah topeng-topeng semu yang mencair di hadap tatap mata yang telah dibasuh lautan air mata. Seberapa banyak tangis yg telah membasuh matamu, hingga tatapan begitu tajam mengupas topeng kosmetik peradaban yg aku kenakan?

Sedalam apa lukamu sehingga dapat menampung begitu banyak hikmah permata kesejatian?  

Mata seperti itu tidak dapat lagi tertipu bentuk fisik, sehingga kau ajarkan aku yang bodoh ini mengenali kedamaian sejati.

Kesejatian yang tidak dapat aku sentuh selama aku mengenakan topeng-topeng dan masih enggan mendekati dengan apa adanya diriku, aku dengan segala luka dan dukanya, dengan segala kekusutan dan derita yang telah kubuat sendiri.

Tidak ada tangis yang abadi, memisahkan mimpi dari kenyataan memang sakit, ada tangis tapi ada juga yang merangkum sakitnya dalam bingkai senyum.

Kamu mengajariku itu...

Mengapa tangis kau akui sebagai milikmu, sedangkan senyum damai itu tidak?

Senyum damai yang tidak kau akui sebagai milikmu itu mengajariku. Ada tangis disana, ada senyum disana.... Disana, yah disana. Di sumber segala damai yang sedikitnya kamu pantulkan dan sudah cukup untuk membuatku tenang.

__________
Gambar dari http://satriojatim.blogspot.com/2010/07/ketika.html

Artikel ini memiliki 12 Komentar

  1. Hanya kamuuu, hanya kamu oh kamuuu *syalalalala*

    BalasHapus
    Balasan
    1. nada dasar apa mas? biar saya gitarin :)

      Hapus
    2. Hahaha nada dasar di Babelan Mas, mungkin dia nyasar :D

      www.salmanbiroe.com

      Hapus
    3. hahahaha mungkin dia lelah, asiiik domainnya nih :)

      Hapus
  2. jadi kepingin nyanyi lagunya Ridho Roma, ahahaa *terbawa suasana si penulis

    BalasHapus
  3. Cumaaaaa kaaaamuuuuu....sayangku dii duniaaa iniiii..

    Terot terot dut...

    :)

    BalasHapus
  4. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo sering mampir jangan-jangan suka sama orangnya yak? bahaya :D

      Hapus
  5. kamu..kamu.. dan kamu...


    nyesssssss (ga tau suara apa)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ☕ hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi damai.

      Hapus