Meriam Si Jagur [review buku]

Meriam Si Jagur Kisah Sejarah dan Legendanya, demikian judul buku setebal 160 halaman dengan kertas berkualitas lumayan bagus ini. Buku Meriam Si Jagur ini hasil tulisan Thomas B Ataladjar seorang pengajar jurnalistik dan menulis di SMP dan SMK Plus Berkualitas Lengkong Mandiri, Kota Tanggerang Selatan.

Meriam Si Jagur Kisah Sejarah dan Legendanya
Si Jagur disini tidak lain dari sebuah meriam kuno yang terbuat dari besi dan kuningan berukuran 386 meter dengan berat 3,5 ton buatan The Master of Royal Foundry (O Grande Fundidor) Manuel Tavares Bocarro (MTB) pada tahun 1652.
Si Jagur ini berasal dari Macao di pesisir China Selatan, buku ini banyak membahas bagaimana sejarahnya Meriam Si Jagur sampai tiba di Batavia dan hingga saat ini menjadi koleksi berharga Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahilah).
Meriam Si Jagur Kisah Sejarah dan Legendanya
Kalau ada yang menyebut buku ini sebagai buku sejarah, saya setuju, kalau disebut buku biografi saya akan lebih setuju. Buku Meriam Si Jagur ini bagi saya adalah buku biografi, terlebih Si Jagur dalam beberapa versi sudah bukan lagi dianggap sebagai benda mati, beberapa legenda menggambarkan Si Jagur sebagai jelmaan Kyai Setomo, suami dari Nyai Setomi atau Kanjeng Nyai Setomi, sebuah meriam yang hingga kini berada di Sitihinggil dalam komplek Kraton Surakarta Hadiningrat.

Legenda lain menceritakan bahwa Si Jagur adalah salah satu dari dua saudara kembar yang terkena kutuk hingga keduanya menjadi meriam, meriam itu adalah Si Jagur dan Ki Amuk yang kini berada di Darparagi (Banten Lama) di halaman alun-alun Masjid Raya Banten.

Masih ada legenda lain yang diceritakan dalam buku ini, saya rasa cukup dengan dua legenda itu saya sudah dapat menyimpulkan bahwa buku ini adalah buku biografi Si Jagur, kisah tentang darimana ia berasal, bagaimana sejarahnya dari Macao dan sekarang berada di Stadhuis Jakarta (Museum Fatahilah).

Ada beberapa hal menarik yang diungkap buku ini, salah satunya adalah tulisan (inkripsi) "EXMEIPSARENATASVM" atau Ex Me Ipsa Renata Sum yang dalam bahasa Latin berarti "Dari Diriku Sendiri Aku Dilahirkan". Terdapat angka latin dalam inkripsi itu, eX me Ipsa renata sVm - XIV yang berarti 16, sehingga Adolf Heuken, SJ menyimpulkan bahwa Meriam Si Jagur terlahir (terbuat) dari 16 meriam kecil yang dilebur untuk menjadi 1 meriam besar.
Meriam Si Jagur Kisah Sejarah dan Legendanya

Selain inkripsi "EXMEIPSARENATASVM" hal menarik lainnya adalah simbol Mano In Fica yang berwujud tangan kanan mengepal dengan ibu jari terjepit antara jari telunjuk dan jari tengah. Simbol demikian secara umum adalah (maaf) simbol persetubuhan.
Meriam Si Jagur Kisah Sejarah dan Legendanya
The Sacred Sectus, simbol pertemuan Lingga dan Yoni, pertemuan Mars dan Venus atau bersatunya Maskulinitas dengan Feminitas, seperti juga makna dari tugu Monumen Nasional (monas).

Si Jagur bukan satu-satunya meriam yang memiliki simbol Mano In Fica, salah satu meriam kuno di Museum Militar De Lisboa juga memiliki simbol yang sama dan kedua meriam itu diberi inisial MTB yang artinya dibuat oleh orang yang sama yaitu Manuel Tavares Bocarro (MTB).

Satu hal yang masih membuat saya merasa kurang puas adalah penjelasan mengenai asal usul nama Si Jagur, buku ini bukan tidak menjelaskan, ada sub bab tersendiri yang mengupas mengapa meriam ini bernama Si Jagur, kesimpulan dalam buku ini adalah Si Jagur berasal dari kata St. Jago de Barra yaitu pabrik pembuatan meriam Si Jagur yang diabadikan oleh pihak Portugis menjadi nama meriam itu. Buku ini juga memberikan versi lain, karena suaranya yang jegar-jegur saat ditembakkan meriam itu dinamakan Si Jagur. (halaman 15).

Ada teman saya namanya Jagur, dia bersuku Sunda Jawa Barat, mugkin lain kali akan saya tanyakan apa makna namanya, barangkali saja entah bagaimana akan ada hubungannya dengan nama Si Jagur. Dalam Bahasa Makassar Jagur itu artinya pukul atau pukulan dengan kepalan tangan, apakah terkait dengan buntut meriam Si Jagur yang ada tangan mengepal? (walau ada jari tengah yang terjepit). Nantilah akan saya cari sendiri dengan modal sotoy :)

Overall buku ini berhasil membuat saya tidak melepaskannya hingga selesai membacanya, penuturan yang mengalir dan susunan bab per bab yang saling menjawab membuat buku ini enak dibaca. Foto-foto dan ilustrasi disetiap uraian juga cukup memperkuat deskripsinya, walaupun saya berharap akan lebih banyak foto dan mungkin peta dengan tahun-tahun yang menerangkan posisi Si Jagur pada tahun-tahun tersebut.

Buku ini saya dapatkan gratis saat event Jakarta Library and Archive Expo 2014 di Lapangan Banteng dari stand Museum Sejarah Jakarta. Buku ini memang diterbitkan oleh Museum Sejarah Jakarta sehingga sepertinya memang bukan untuk diperjualbelikan. Toh buku ini dicetak dengan anggaran Museum Sejarah Jakarta yang non profit, mungkin kalau teman-teman berkesempatan mengunjungi Museum Sejarah Jakarta, silahkan meminta buku ini, barangkali saja masih ada stoknya :)

Demikian review bebas saya tentang buku ini sebagai ungkapan terimakasih kepada Museum Sejarah. Jakarta atas pemberian buku ini.

Salam.

Foto dari berbagai sumber.

Klik untuk komentar