sedikit catatan tentang Jambore Relawan #SekolahRaya

 Jambore Relawan Sekolah Raya

Mungkin kita telah lupa di kota mana PON kesekian dilaksanakan dan kapan?
Kita juga mungkin telah lupa siapa nama menteri bidang A masa Presiden B tahun sekian. Jika Anda mengenal yang namanya Buku RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap) mungkin Anda seumuran dengan saya, dan tahu bahwa buku ini dapat menjawab tuntas soal tanggal, tokoh dan banyak hal, lalu apakah kita bisa mengingat semua pelajaran yang telah kita lewati tanpa bantuan buku, mesin pencari internet dlsb?
Mungkin saja bisa dengan metode yang lebih meresap dan mengikat ingatan lebih dalam.

Bagaimana seorang anak didik akan diperkenalkan, diajarkan mengenai metamorfosis? 
Pak Taga Radja Gah, M.Pd menceritakan tentang sebuah proses belajar yang berbeda. Ia bercerita bagaimana seorang guru meminta setiap muridnya secara perorangan atau per kelompok mencari seekor ulat untuk dipelihara, diberi makan daun dan seterusnya hingga menjadi kepompong lalu menjadi kupu-kupu.

Proses tersebut tentu tidak mudah, mulai dari beberapa orang tua yang keberatan menemani bahkan mencarikan ulat untuk dipelihara oleh anaknya, ulat yang mati saat dalam proses pengamatan ,dan kendala lain sebagaimana diceritakan Pak Taga Radja Gah, M.Pd Kepala Sekolah SMAN 18 Jakut di sela-sela materi yang dibawakannya dalam acara Jambore Relawan #SekolahRaya 13-14 September 2014 di Aula Desa Segarajaya Tarumajaya Kab. Bekasi.

Taga Radja Gah, M.Pd
Sumber foto: http://oxygen-power.blogspot.com/
Metode seperti di atas di kenal sebagai learning experience atau experience based learning yang memerlukan kreatifitas dari pendidik untuk mengembangkannya. Itu hanya salah satu metode belajar yang masih banyak digunakan, namun sayangnya juga sudah mulai ditinggalkan.

Peserta didik dapat belajar melalui metode-metode yang lebih akrab dengan alam dan lingkungannya, pada gilirannya sekolah dan lingkungan sekolah menjadi kesatuan ruang belajar yang bermanfaat bagi semua pihak. Asas timbal balik antara sekolah dan lingkungan menciptakan banyak peluang pengembangan belajar, salah satunya dengan Metode Problem Based Learning (PBL), Metode Experience Learning (MECL), Metode Experiential Learning (METL) dan sebagainya.

Setidaknya 2 hari mengikuti Jambore Relawan Sekolah Raya membuat wawasan saya banyak terbuka akan dunia pendidikan, banyak membuka mata saya akan rumitnya ilmu di balik Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini.

Sekolah Raya membuat saya menghapus bayangan bahwa kata “sekolah“ identik dengan gedung, sarana belajar & kelulusan siswa semata. Sekolah Raya adalah mekanisme menggerakkan jejaring afiliasi, dari sekolah umum, taman pendidikan, sanggar belajar, taman baca, pondok pesantren maupun padepokan. Bersama-sama relawan di dalamnya menerapkan desain kurikulum pendidikan dengan media utama belajar adalah ALAM dan BUDAYA.

untuk mempertemukan dan mengaitan keberagaman dalam konteks ke-Indonesia-an dimulai dengan mengubah cara pandang bahwa Indonesia sesungguhnya ada di Desa atau kampung. Potensi, sumber daya alam, budaya, kompleksitas permasalahan dan disinilah sistem sosial terkecil ketika antar pribadi dan keluarga menjadi terhubung. Dalam kerangka ruang kota, sebenarnya konsep kota itu sendiri juga niscaya sama jika kita dapat melihatnya sebagai wilayah-wilayah perkampungan besar di Indonesia.

"Desa atau kampung dapat menjadi pijakan yang penting untuk menjadi pilihan utama dalam menguatkan dan melipatgandakan kekuatan perubahan yang diiinginkan. Saya membayangkan setiap kota di Indonesia bisa menjadikan tiap desa/kampung menjadi berdaya dan setara dengan beragam multi minatnya" kata Bang Agustian @ojeksufi sang founder Sekolah Raya.

Acara jambore di perkuat dengan pemateri Dr. Muh. Hatta dari Sekolah Alam "Madinah School" sharing tentang Sekolah Totochan dll, kemudian Heny Budiastuti (Classroom Management), Taga Radja Gah, M.Pd Kepala Sekolah SMAN 18 Jakut membawakan materi Pedagogik dll, secara keseluruhan suksesnya acara tidak terlepas dari team fasilitator yang profesional yaitu Cak Ipul, Uya, Sirod dkk dari Cerah Institute.

Cerah Institute
Peserta datang dari berbagai latar belakang, Komunitas Kalacitra & Ranita dari Mahasiswa/i UIN, KABASA Bekasi, PYD (Pondok Yatim Darrussalam Babelan), Sahabat Kolong / Sanggar Anak Kolong Jakarta, Flamboyan dari UNJ, Gerakan Moral Pelestari Jawara Bekasi (diwakili dari Padepokan Sima Maung Babelan, Pendekar Sumur Tujuh Bekasi dll), Distrik Tiger Cikarang Plus, KLJI Official, Sanggar Belajar Kasembon Malang, Sanggar Belajar Kampung di Kota Batu Malang, SD Alam Anak Sholeh, desa Setiasih Tarumajaya Bekasi, SMP Terbuka Babelan Bekasi,  SMK Industri Nusantara babelan Bekasi dan lainnya.

13-14 September 2014 Aula Kantor Kepala Desa Segarajaya Tarumajaya menjadi saksi lahirnya relawan-relawan pendidikan yang saling bersilaturahmi dan berbagi pengalaman antar jejaring komunitasnya, berbagi dan meningkatkan pengetahuan relawan tentang desain Sekolah Raya yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan komunitasnya.

Selepas jambore ini, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi keahlian masing-masing jejaring kemudian mendesain kurikulum Sekolah Raya untuk diterapkan di wilayahnya masing-masing atau saling mengisi dan bertukar materi pengajaran antar sesama jejaring. Tahun depan, jika jambore yang sama akan dilaksanakan, masing-masing akan berbagi kembali pengalamannya dan mencoba merumuskan masalah untuk mencari solusinya. Insya Allah. :)

Salam.

Foto-foto kegiatan hasil dokumentasi saya dapat dilihat di: Album Jambore Relawan #SekolahRaya


2 komentar

avatar

Gue juga mau bikin tulisan tentang Jambore Relawan kemaren ahh..
ngutip beberapa kalimat keren nan menyentuh hatinya yaa, om ^^

avatar

hehehe silahkan kang :) semakin banyak dan terdokumentasi akan semakin baik untuk evaluasi nantinya.

Klik untuk komentar