dumelan edisi penyair palsu

Ibu pertiwi... Anakmu tiap hari berkelahi, masing-masing menyatakan kamarnyalah yang paling baik hingga ingin membelah rumah.

Ibu pertiwi, kemanakah bapak bangsa yang dengan tangan besi dapat memaksa anak-anaknya bersatu dalam perbedaan? Malu sama tetangga.

Kami terbiasa disuapi, disapih... Kini memandang saling curiga kepada sesama saudara, masing²  mengasah lidah untuk saling tikam.

Kami tak kuasa membelamu bunda, kami sibuk bertengkar, terkaget tersadar saat tetangga jauh dan dekat telah memperkosamu.

Kini kami tergagap, namun masih terus bertengkar, walau kaki dan tangan telah kami pasang sendiri belenggu perbudakan.

Ibu pertiwi, kami tak bisa membedakan antara kasihmu dan tipu muslihat penjajah gagah yang diam-diam kami puja.

Saat kami sengsara atas kedurhakaan padamu, kami membencimu...

Kami anakmu yang bukan lagi anakmu.


Klik untuk komentar