elegi pagi

Apa kabar kota yang tak pernah tidur?
Apa kabar malam yang semakin renta?
Nyenyakkah tidurmu yang berselimut gelisah.
Tiada lagi kulihat tarian menyambut gerhana bulan.
Gemintangpun berganti kerlip lampu dansa.

Apa kabarnya kau desaku?
Saat sawah ladang menjadi perumahan.
Ketika petani hanya mencangkul aspal.
Menanam kabel-kabel dan pipa peradaban.
Tak ada yang kalian panen selain banjir dimusim penghujan dan kerak tanah di kemarau.

Sungai menjadi kejam, sudah semakin sering ia membunuh anak-anak.
Airnyapun sudah semakin tajam.
Sungai tak lagi bermuara dilaut.
Sudah menjadi kubangan sampah kota.

Bukit kitapun tak lagi sejuk.
Rindang hutan beton semakin subur.
Tidak ada lagi kelinci liar dan kupu-kupu.
Telah tersingkir oleh kelinci liar berotak mesum dan kupu-kupu malam yang tak kenal waktu.

Namun tetap kusambut kau wahai fajar.
Kiranya hari ini akan membawa kisah lain.
Kisah kedamaian yang selalu dinanti namun selalu dimaki.

Selamat datang... Pagi.

Artikel ini memiliki 2 Komentar

  1. Indah nian puisi ini, namun sayang, guratan kalimatnya mengambarkan kenyataan yg terjadi di suatu kota metropolitan yg sungguh jauh berbeda dengan masa-masa dahulu, dimana nyanyian begitu merdu, namun kini, sumpah serapah begitu mudah terlontar, segudang permasalahan bertubi-tubi menghajarnya.

    Daeng good poet, :)), salam damai selalu...

    BalasHapus
  2. @MBT: salam damai juga palle'na :) bagusmi itu ID mu rul hehehehe

    BalasHapus