Tegarlah Endy Tegar Kurniadinata




Sejak terbangun dari tidurnya di ruang Instalasi Perawatan Intensif RSU Dr Sudono, Madiun, Senin (6/7), berulang kali Endy Tegar Kurniadinata, bocah berusia tiga tahun itu, menangis. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (5/7) pagi dan membuat separuh kaki kanannya putus terus membayanginya.
Bapak nakal. Ben ditangkep polisi, terus ditabrakne neng sepur koyok aku. Sikilku neng endi Bu kok hilang? (Bapak nakal, biar ditangkap polisi lalu ditabrakkan pada kereta seperti aku. Kakiku ke mana Bu kok hilang?)," katanya lirih. Selang beberapa menit, kalimat lain terucap dari mulut Tegar, "Kok bapak tego nabrakne aku nang sepur to Bu? Sampe sikilku tugel (Kok Bapak tega menabrakkan saya pada kereta api Bu? Sampai kakiku putus)."

Kalimat-kalimat itu hanya dua dari sejumlah kalimat yang berulang kali diungkapkan Tegar untuk menumpahkan perasaan kecewa bercampur dendam yang terus berkecamuk dalam dirinya terhadap Bapaknya, berinisial Pur (30).
Menurut Tegar, Pur dengan sengaja menabrakkannya ke kereta api yang melintas di jalur rel, di belakang tempat tinggal mereka di Desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, antara pukul 02.00- 04.00, Minggu. Sebelum peristiwa itu, Tegar mengaku sempat dicekik oleh Pur. KOMPAS cetak




Trauma Suara Keras

Selain terus menanyakan kakinya, menurut Devi Kristiani (Ibu Tegar), Tegar juga ketakutan ketika mendengar suara keras atau suara mirip KA sedang berjalan. Bahkan ketika mendengar suara televisi ia juga ketakutan, seolah itu suara KA sedang berjalan.
“Tadi saja, ada suara televisi dia langsung teriak-teriak ketakutan. Dia kemudian berteriak akan menabrakkan bapaknya ke kereta api,” kata Devi. SURYA Online

Setiap mengikuti berita ini ada rasa tegang di perut saya, ada rasa marah, jengkel....
Saya hanya selalu bertanya, apakah jika saya berada di sana saya akan berusaha menghalangi bapak tiri Tegar melakukan perbuatan biadab itu?
.... atau saya hanya beranjak pergi dan menenangkan hati saya dengan kata-kata "ah biarkan saja, toh mereka bukan keluarga saya"

apakah tidak ada seorangpun yang melihat (atau peduli) saat Tegar dibawa bapaknya kepinggir rel kereta? tidak adakah manusia lain di sana?

Entah apa yang terjadi pada rasa kemanusiaan saya.....

Sayapun menggumam, bukankah lebih baik jika Tegar langsung meninggal sehingga tidak merasakan pedihnya penderitaan itu?. Akankah ia tumbuh menjadi manusia pendendam... toh tidak ada seorangpun yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya...

Jikapun dijawab, apakah balita itu akan dapat memahami alasan apa yang membuat bapaknya melakukan hal itu.. saya pun yang setua ini tidak memahami alasan itu, ahhhh... jelas sudah, saya tidak setegar balita itu.

Ia tegar, sebagaimana namanya.

Ya Allah, segala sesuatunya terjadi atas ijinMU
karena KAU Maha Adil, biarlah keadilanMU yang menyelesaikan semua misteri hidup ini.

Maafkan hamba yang selalu ingin melihat sesuatunya dengan Mata KearifanMU


Tumbuhlah Nak, deritamu bukan hanya milik pribadimu, derita itu adalah milik kemanusiaan, jika kami masih memiliki itu.


----------------------------
Gambar dari http://www.surabayapost.co.id
Berita dari:
http://cetak.kompas.com
http://www.surya.co.id