Nunukan as I see

Pelabuhan Tunontaka Nunukan 2008 Kalimantan Utara


Nunukan secara umum

Dari hasil ngobrol dengan siapa saja yang saya temui berikut kesimpulan atau gambaran kasar selaku pendatang yang cuma punya kesempatan 4 hari jalan-jalan ke dekat perbatasan Indonesia - Malaysia.

Konon awalnya Nunukan dihuni oleh Suku Dayak Tidung (cmiiw), Nunukan merupakan pintu gerbang utara utama bagi para pendatang dari Malaysia melalui Tawau, saat ini dari pengamatan saya masyarakat pendatang lebih dominan meramaikan pelabuhan dan sekitarnya.

Menurut seorang teman ngopi, katanya secara kasar komunitas masyarakat Suku Bugis bisa mecapai 70% baik pendatang atau penduduk sekitar, khususnya dipelabuhan hampir semua lini diisi orang pendatang. 

Kehidupan dan mobilitas TKI menjadi penggerak perekonomian dominan, nunukan lebih bersifat kota jasa atau kota niaga karena kurangnya produk industri/pertanian/perikanan yang merupakan hasil asli Kota Nunukan. Barang-barang kebutuhan sehari-hari dipasok dari Malaysia, harga barang kebutuhan relatif lebih mahal. (Ekonomi biaya tinggi karena ongkos distribusi yang mahal)

Info ajah, kalo punya atau sempat bikin KTP Nunukan, katanya kita bisa ngurus PLB (Pas Lintas Batas) dan saat akhir pekan kita bisa weekend di Tawau Malaysia (sayang saya cuma 4 hari, gak cukup waktu untuk mengurus semua).

Saat saya di sana hujan turun saat pagi dan malam, bikin males bangun pagi. Listrik tidak stabil sehingga sering mati lampu, mantap dan cocok buat destinasi honeymoon :D . Televisi lebih banyak menggunakan TV kabel, jadi HBO, Moviestar dan ESPN pasti bisa ditonton di mana aja.

Sepanjang yang saya dengar, Pelabuhan Tunon Taka relatif aman dari tindak kriminal umum. Tapi yah namanya waspada sebaiknya tetap ditingkatkan. Bandara domestik di Nunukan kecil saja, saat saya ke sana hanya ada pesawat Trigana Air, mungkin karena landasa atau bandara yang kecil sehingga hampir tidak ada maskapai penerbangan domestik yang menjadikan Nunukan sebagai rute tujuan.

Pelabuhan Tunon Taka:
Nih List Ferry Int'l Tawau (Malaysia) - Nunukan (Indonesia) - Tawau (Malaysia):

KM. Tawindo II
KM. Mid East Ekxpress 1
KM. Mega Ekspress II
KM. Samudera Indah I
KM. Purnama Express
KM. Francis Express
KM. Labuan Express II
KM. Labuan Express V
KM. Nunukan Ekspress
KM. Malindo Expres 2


Yah Ferrynya rada gak nyaman lah, sebenernya masuk dalam kategori kapal ferry atau Speedboat?
Seadanya ajah, kondisi pelabuhan juga maaf saja, jauh dari bayangan saya seperti pelabuhan pada umumnya. Jika dibandingin pelabuhan ferry Merak??? jauh bro, kalau dengan pelabuhan fery di Tanjung Balai Karimun mirip lah, sekelas. Padahal, kalo Nunukan mau maju, Pelabuhan dan Bandara adalah pintu gerbang yang harus ditata lebih dahulu, karena Nunukan adalah sebuah pulau kecil yang sangat strategis sebagai tempat transit ke negara tetangga.


Pelabuhan Sungai Bolong / Sei Bolong

8 Speedboat ke Tawau (Int'l) satu mesin tempel 115 PK, dan ke Sibukku, Simanggaris (Domestik). Speedboat dengan 2 mesin tempel milik perusahaan kepala sawit NJL (Nunukan Jaya Lestari) domestik untuk antar jemput pegawai NJL.

Pelabuhan Lamijung (Pelabuhan Penumpang Ferry).

Pelabuhan Lamijung adalah pelabuhan baru yang sudah dikerjakan sejak tahun 2006. Wacana dari Pemda jika pelabuhan Lamijung sudah jadi maka untuk pelabuhan ferry penumpang akan dipindahkan dari Tunontaka ke Lamijung. Katanya sih tahun 2010 baru akan selesai.

Angkot dan ojek ada kok, cuma gak ada lampu lalu lintasnya. Kira-kira ada yang mau jadikan bahan penelitian gak yah? yah korelasi antara lampu lalu lintas dengan besarnya sebuah kota :)

Dari Jakarta ke Nunukan.
Saya kemarin naik Mandala, transit di Sepinggan Balikpapan dan turun di Tarakan, dari Tarakan kepelabuhan ferry naek angkot terus di pelabuhan naik speedboat ke Nunukan, ongkos speedboat ke Nunukan per orang 180 ribu rupiah.

Sesampainya di Nunukan langsung diserbu buruh TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) padahal saya gak bawa barang banyak.

Oh iya, di sana ada rumah makan yang enak, Pondok Dahar Srikandi namanya, mantap deh.


--------------------
Nunukan
as I see at 22-27 Oktober 2008

Klik untuk komentar