Korban antrian zakat pasuruan

Tiba-tiba saja kita kaget (atau pura-pura kaget???)

Quote dari Detik Surabaya:
Jalan menuju rumah Syaikon (saudagar pembagi Zakat) hanya berlebar sekitar 2,5 meter. Sebelum insiden maut itu terjadi, di ujung jalan dibuat sekat yang terbuat dari bambu. Hanya ada pintu selebar 1 meter untuk keluar masuk ke rumah Syaikon. Pemagaran tersebut dilakukan agar warga bisa mengantre dengan tertib. Namun, ternyata sebagian penerima zakat yang sejak pagi antre berebut masuk ke dalam gang yang dipagar itu. Sementara yang lainnya menunggu giliran di sepanjang Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo.


Akhirnya penggunaan sekat tersebut berbuah petaka. Penerima zakat yang akan masuk dan keluar dari rumah Syaikon terjebak di dalam gang. Mereka berebutan melewati satu-satunya pintu yang tersedia. Akibatnya suasana di dalam gang menjadi kisruh. Saling desak dan saling injak terjadi. Akhirnya terjadilah insiden berdarah.

Sebanyak 21 orang kaum duafa tewas terinjak-injak. Sebagian besar yang tewas adalah manula (manusia lanjut usia). Mereka yang menjadi korban tewas sebelumnya mengantre di deretan depan atau di dalam gang. Korban yang tewas kemudian dibawa ke Rumah Sakit R Soedarsono Purut Pasuruan.

Sejumlah kalangan menyesalkan kejadian tersebut. Sebab pembagian zakat, seperti yang dilakukan Syaikon sangat berisiko. Apalagi para pengantre umumnya anak-anak dan manula. Mereka sangat rentan menjadi korban desak-desakan.

Prihatin??? tentu saja

Kenapa bisa terjadi??? banyak motifnya
bisa jadi sang pemberi zakat tidak percaya dengan lembaga penyalur zakat, ada motif pribadi dari si pembayar zakat, yah macam2lah.

Kini kejadian ini terbentang di hadapan kita untuk di ambil hikmahnya.

Klik untuk komentar