Ocehan sore ttg "Uang Panaik"


Sebetulnya bisot dagh bahas ttg nikah di postingan lama, Baca dulu yah sebelum baca postingan ini.

Terus kalo dihitung-hitung bisot sendiri sudah hampir 6 tahun married, kayaknya masih kurang senior ngomongin topik ini, but... who care??? wkkkk

Otreh, postingan ini spontan aja, abis baca blognya Mhimi ttg uang panaik, sebetulnya adat seperti itu bukan hanya milik orang Bugis-Makassar, tapi ada juga yang serupa di suku Nias, Banjar dll, namanya "Jujuran", coba aja tanya sama Mbah Google. Di tempat lain biasa di kenal dengan "seserahan".

Gw sih gak ahli sejarah tapi secara logika saja bahwa adat ini sudah ada jauh sebelum nusantara mengenal Islam.

Kalo mau bicara dari aspek ajaran islam, yah singkat saja saya jawab, bahwa adat seperti itu bukan ajaran Islam, tapi sudah menjadi common habbit, ini seperti sebuah pemberian, atau hadiah. Saat seseorang pria ingin menikah dengan seorang perempuan, maka adalah sangat wajar dan manusiawi jika pihak pria memberi sesuatu kepada sang perempuan, pada waktu pacaran saja sudah sering ngasih.... ya gak???


Secara common sense juga maka pihak perempuan akan menguji kesungguhan sang pria untuk menikah, jaman dahulu sampe ada sayembara pertarungan terus yang menang akan meminang sang perempuan. Ini terkait dengan survival living dan hendak seperti apa keluarga yang akan di pimpin sang pria.

Banyak juga yang memandang bahwa "Jujuran", "Uang panaik" dlsb itu nantinya akan digunakan sebagai modal awal usaha, ataupun untuk bekal hidup sementara bagi pasangan pengantin baru. Sah-sah saja sepanjang tidak memberatkan salah satu pihak.

Kalo sekarang "Jujuran", "Seserahan", "Uang Panaik" sudah menjadi komoditi gengsi sebenarnya gak betul juga, karena ternyata lebih banyak mitos dan omongan yang tidak dapat diferifikasi kebenarannya mengenai hal ini.

Banyak pemuda yang memutuskan untuk tidak menikahi seorang gadis dengan alasan tidak mampu memenuhi tuntutan pihak perempuan sebenarnya adalah calon yang pada dasarnya memang tidak mendapat restu alias ditolak secara halus (atau kasar yah?) dengan memberi persyaratan yang memang mustahil termasuk persyaratan "Jujuran" atau "Uang panaik" yang jumlahnya ehm..ehm. Untuk kasus ini coba kita renungkan kisah legenda Dayang Sumbi dan tangkuban perahu.

Saya adalah saksi hidup akan elastisnya budaya "Uang panaik", karena uang panaik secara praktis digunakan untuk acara resepsi pernikahan. Jika ada beberapa orang yang menyalahgunakan untuk mendapatkan keuntungan dari budaya "Uang panaik" ini, itu adalah kelakuan pengecut yang bersembunyi di balik adat.

Sebenarnya menurut saya, uang panaik ini adalah sebuah bukti komitmen dari pihak pria, karena tidak jarang saya dapati bahwa pihak perempuan lebih banyak menanggung biaya pernikahan putrinya. Lebih menyedihkan lagi, setelah banyaknya biaya yang digunakan untuk resepsi pernikahan ini, baru setahun atau dua tahun menikah sudah bercerai. Adalah beban berat bagi pihak keluarga perempuan untuk memulihkan status pribadi anak perempuannya yang menjadi janda. Hal yang mungkin tidak akan di alami oleh pihak keluarga pria.

Saya menghormati budaya "Jujuran", "Uang panaik" sebagai penghormatan akan martabat seorang perempuan dan komitmen dari seorang lelaki. Namun saya juga mengutuk pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari budaya ini.
Jika alasannya adalah untuk menolak lamaran secara halus, saya bisa terima, namun jika "Uang panaik" dikait-kaitkan dengan status bangsawan (yang nota bene dagh gak laku di jaman sekarang), tingkat pendidikan, dari keluarga haji bla..bla..bla saya tidak dapat berkata lain kecuali mengingatkan pesan Rasullullah lewat Hadis Abu Daud dan At-Tirmidzi :
"Dan apabila datang kepadamu orang yang kamu rela akan agama dan amanahnya, maka nikahkanlah ia, jika tidak kamu lakukan, maka akan terjadi bencana di bumi dan kerusakan yang besar".

Saya membayangkan tingginya tingkat pemerkosaan di beberapa wilayah di Sulawesi adalah karena akibat dari ulah mereka yang menyalahgunakan budaya "Uang panaik". Efek lainnya mungkin akan banyak perempuan dan pria yang tidak menikah seumur hidupnya akibat ini.

PS:
Yang saya bahas di atas adalah budaya "Uang panaik", "Jujuran" dan yg sebangsanya, bukan mahar dalam ajaran Islam. Mohon dibedakan antara Syariat dan adat.


Salam



  Komentar: 1

mhimi   Jumat, 25 January 2008 @ 09:04 WIB   
zeeplah daeng postingannya..!
kalau biasa bacanya mhi2 temukan artikel2 yang sedikit menyudutkan kaum hawa bugis-makassar, dimana uang panaik dijadikan momok utama dalam alasan "kawin" lari ditengah2 masyarakat kita..

semoga semakin banyak pencerahan ttg makna "uang panaik" itu sendiri.

karna kupikir adat istiadat yang sudah menjadi tradisi turun menurun tentu tidak mungkin bisa bertahan kalau itu ngga ada maknanya...!

karna sempat gemes juga sech, kalau ada kalimat yang menyatakan perawan tua makin menjamur disulsel karna " uang panaik"

atau cewek-cewek yang masih setia melajang selalu disangkutkan dengan uang panaik..!

yah setidaknya postingan ini menurut aku beda banget dengan tulisan2 yang selama ini aku baca dengan topik yang sama yang dibahas dari sudut pandang lelaki.

sebenarnya sech mhi2 sadar kapasitas mhi2 waktu posting masalah ini belom pas, yah namanya juga tausiah kata daeng bisot kan..??

sekali lagi seeplah daeng...!
bisot   Jumat, 25 January 2008 @ 09:33 WIB
kawin lari.... kalo main hitung2an, pihak perempuan lebih banyak ruginya, karena secara hukum perdata jika memiliki anak, maka sang anak hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya dalam hal waris dan perwalian.

tahu sendiri "sillariang" itu memiliki dampak budaya seperti apa dan untuk memulihkannya juga bagaimana, serba repot. kemungkinan besar awalnya adalah penolakan dari keluarga perempuan.

otre degh. kalo ada yg salah atau kurang sorry yah.

thx

Klik untuk komentar