losseness

Soal kehilangan barang bukan hal yang baru bagi bisot. Entah karena pikun, pikiran suka blank, escape from reality, trance, ngelamun, ngelindur, kram otak, solitude oddysey, halah... apapun itu yang pasti lupa... lupa. Yang namanya lupa khan tidak ingat, ya gak fren.

Pernah inget saat bisot baca Ihya Ullumuddin nya Al-Ghazali, kalo gak salah ingat, beliau dengan sangat meyakinkan menerangkan bahwa kehilangan barang itu dapat menjadi suatu cara untuk mensucikan diri kita. Caranya mungkin dengan mendoakan si "pencuri" semoga barang yang telah ada padanya tersebut dapat berguna baginya, dan kita yang kehilangan meniatkan barang tersebut sebagai hibah, fisabilillah, dengan konsekuensi jika barang tersebut kembali lagi kepada kita, kita harus konsekuen menghibahkan barang tersebut kepada orang yang membutuhkannya.

Beugh, hebat bener kalo ada orang kayak gitu yah, tapi dari segi pragmatis yah memang gak ada gunanya ngedumel, curiga, menuduh demi melampiaskan kekesalan karena kehilangan barang dan menutupi kesalahan karena telah lengah sehingga kehilangan.

Tapi saya percaya masih ada orang seperti itu, tapi kadang bukannya kagum pada mereka malah gemes "Ihhh ini orang pasrah amat yah?" "Zuhud apa apatis abizzz?". Dengan semangat 2007 (sorry mau pake semangat 45, gw pan blom lahir wkkk) seakan ikut berempati biasanya bisot malah jadi kompor, alias tukang kipas.
"Kalo buktinya cukup laporin aja ke Pak RT"
"Wah, sudah lapor Polisi belum, ayo gue anterin"

Lain kasus jika kita kehilangan orang yang kita cintai, entah karena sakit, kecelakaan atau sebab-sebab lainnya, yang pasti Maut telah menjemput.
Jangan tanya saya bagaimana perasaan keluarga Cliff Muntu, praja IPDN yang tewas ditelan budaya penindasan dan tradisi usang senioritas. Jujur saya katakan, rasa kehilangan seperti apa yang dirasakan tidak akan pernah dapat saya gambarkan, tidak akan pernah dapat saya rasakan. Hilang sudah sari kebijakan spiritual dari Petuah Al-Ghazali, Syair Rabindranat Tagore, Kidung Daud, Prosa Gibran.

Dengan semangat 66, seakan ikut berempati "Bisot-bisot besar" kembali menjadi kompor. Menjadikan airmata sebagai komoditas. Entah di media cetak, elektronik ataupun dalam ruang rapat Komisi XI dan Komisi II.

"bisot kecil" hanya bisa menulis blog, semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan.


Klik untuk komentar