Momen Memalukan yang Berujung Berkah

Pagi yang Riuh di Rumah Reina Gemerincing suara piring di meja makan beradu dengan suara decak kesal Reina yang tak kunjung berhenti. Pagi ini, rumahnya yang kecil kembali menjadi medan perang.  Tiga anak Reina, mulai dari si sulung yang beranjak remaja hingga si bungsu yang baru duduk di bangku se…

Pengalaman Naik DAMRI dari Bandara Soetta ke Bekasi: Murah, Nyaman, dan Penuh Kebaikan Tak Terduga

Bandara Soekarno-Hatta itu luasnya buat calon manula yang jarang olah raga seperti saya terasa di luar nalar. Jalan kaki dari apron sampai ke pintu keluar terminal bisa bikin napas ngos-ngosan dan kaki pegal berlapis-lapis. Saat itu saya menyeret koper sambil menata sisa tenaga. Di tengah rasa cap…

Saat Perhatian Kita Dijual: Tentang Media Sosial dan Jiwa yang Perlahan Lelah

Pagi itu, seperti banyak pagi lainnya, tangan saya refleks meraih ponsel sebelum mata benar-benar siap menerima dunia. Belum sempat mengucap doa bangun tidur sepenuhnya, layar sudah menampilkan notifikasi handphone: pesan grup, video pendek, berita sensasional, potongan konflik, iklan yang terasa …

Kata Ki Somad tentang Hipervigilansi, Otak yang Selalu Waspada

Matahari sudah agak condong, menyisakan hawa lengket khas Babelan di halaman Kantor Kecamatan. Di bangku plastik dekat gerobak nasi goreng jengkol langganan, Ki Somad, dengan sarung kotak-kotaknya, sudah asyik menyeruput kopi hitam yang pahit.  Tepat di sebelahnya, duduk Aman, guru muda Madrasah de…

Nasi Kebuli, Burung Ababil, dan Misteri Sijjil

Siang itu, suasana di Nasi Kebuli Basmati Risaldi 99 di Muarabakti, Babelan, terasa adem meski matahari Bekasi lagi terik-teriknya. Aroma rempah dan kambing panggang masih menggelayuti udara, bercampur dengan aroma kopi tubruk. Ki Somad, baru saja menyeka mulutnya dengan tisu, tampak puas sekali. …

Kongko Bahas Amar Ma'ruf Nahi Munkar Sesuai Kapasitas

Sore itu, Kedai Nasi Kebuli Basmati Risaldi 99 di Muarabakti , Babelan, penuh aroma daging kambing muda yang baru ditumis rempah. Dicky, si pemilik kedai yang juga punya peternakan kambing, mondar-mandir sambil sesekali nyamber gelas kopi pahit pelanggan. “Kopi gue tetep paling jago bikin mata mel…

Lakum Dinukum Waliyadin Versi Kenangan Saya

Sekitar tahun 1994 saat saya jadi pengangguran sukses — Siang itu cukup terik. Saya dan Erik Satiri (yang kini tinggal di Kalimalang, Cikarang) duduk santai di pinggir jalan. Rumput liar menjadi alas tempat kami rebahan, melepas lelah setelah berkeliling ngamen dari rumah ke rumah.  Gitar ¾ yang sa…