Di antara spasi

Dia yang saya kenal itu sebenarnya agak pendiam, introvert dan pemalu. Tapi ia selalu bisa menemukan kesenangan dari apa yang ia lakukan. Tapi kesenangan saja tidak cukup, kesenangannya harus bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Dia yang saya tahu juga cukup supel dan dapat bergaul dengan siapa saja, interpersonal skill-nya juga lumayan.

Hal lain yang sering orang salah pahami adalah saat dia ikut kegiatan atau pergi ke suatu tempat, dia begitu asik dan menikmati perjalanannya, tiba di tujuan juga dia sibuk dengan dunianya sendiri. Pernah karena satu dan lain hal kami tidak sampai ditujuan dan musti kembali. 
Dia... sesekali ikut berkomentar dan memberi pendapat, tapi jelas tampak dia tidak terganggu dengan fakta bahwa kami harus kembali sebelum tiba di tujuan. Kami kecewa karena rencana yang telah sekian hari dirancang harus gagal... dia menatap kami seakan tidak mengerti mengapa kami kecewa. Seakan-akan tidak ada apapun di luar kepalanya yang bisa mengganggunya dalam keasikannya.

"Ni hari elo mau ngapain?"
"Gue masih ada urusan sama hujan, hujan yang kemarin kurang deras" jawab dia santai.
"Hah?" sambil masang muka bengong.
"Hahaha, sudah lupakan..." seakan gak mau membebani saya dengan penjelasan yang mungkin akan bikin saya tambah bingung.

Jawaban-jawaban seperti itu gak sekali dua kali, selain gak nyambung saya dan teman-teman juga kadang tidak benar-benar paham apa yang dia katakan.



"Lu gak kecewa dan nyesel foto elo gak menang?"
"Kecewa sih ada, tapi gak nyesel kok, menang atau enggak gue gak bakalan nyesel, tujuan gue ikut lomba salah satunya karena gue mau orang ngeliat apa yang gue liat dan gue rekam lewat foto gue" jawabnya santai.
"Gue udah lihat, tapi gue gak ngerti itu foto apaan"
"Yah itu dia, gue mau pertanyaan-pertanyaan itu muncul saat orang liat foto gue, soal jawabannya terserah masing-masing" jawabnya misterius.

Kalau saya tidak salah ingat dia lahir tahun 1995, saya sudah lulus SMA dan sudah setahun menjabat pengangguran sukses di Makassar kala itu.

"Menang atau enggak gue gak bakalan nyesel, tujuan gue ikut lomba karena gue mau orang ngeliat apa yang gue liat dan gue rekam lewat foto gue".

Ok dia gak nyesel seperti pengakuannya, lalu tujuan dia ikut lomba ingin menginspirasi orang lain, berbagi "entah apa" kepada yang melihat "cerita" yang ia rekam melalui sebuah foto hitam putih. Pernyataan yang sederhana sih tapi semakin jelas menggambarkan teman muda saya ini.

Dia yang selalu asik dengan dunianya ini selalu memiliki cara pandang berbeda, kadang saya merasa konyol dengan konsep-konsep sederhananya, kadang saya merasa kurang manusiawi menganggap apa yang ia lihat hanyalah bualan atau omong kosong para pemuda pemuja idealisme atau mungkin utopia yang gak bisa saya pahami.

Bukankah tujuan ikut kontes adalah menang dan kalah? dia menjawabnya bukan.
Saya gak mau percaya, tapi dia bukan tipe pemain kata seperti saya, dia efektif kadang cenderung pelit untuk berkata-kata. Baiklah, kalau hanya untuk memberi inspirasi kenapa juga repot-repot mengirimkan fotonya untuk sebuah lomba yang dia tahu kemungkinan menangnya cukup berat, lomba bergengsi fotografi komunitas foto ternama di kota ini.

Saya bayangkan dia saat ini sedang tersenyum misterius sambil berkata "pertanyaan-pertanyaan itulah yang gue mau muncul saat orang melihat foto gue".

Misterius tapi inspiratif :)



Artikel ini memiliki 2 Komentar

  1. Dia orang yang saya kenal, sosok misterius namun penuh inspiratif. Untuk dapat bicaranya butuh heart to heart. Saya sangat mengapresiasi oemuda itu, menelurkan banyak karya yang penuh imagine.❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) keren kok orangnya hehehe, inspiratif

      Hapus