
Sore di Pasar Babelan
Petang semakin matang, sinar matahari perlahan turun di halaman Pasar Babelan. Pedagang mulai merapikan dagangan, sebagian pembeli masih menawar sayuran, sementara suara kendaraan bercampur dengan suara pedagang yang masih tawar menawar dengan pembeli.
Di bagian depan bangunan pasar, Warung Kopi Mpok Nining masih sibuk melayani pesanan. Di kursi favoritnya, dekat tiang utama warung, Ki Somad duduk menikmati kopi hitam dan sebatang rokok kretek.
“Assalamualaikum, Ki.”
“Waalaikumsalam.”
Bang Udin si pedagang sayur dengan topi kuning yang dipakai terbalik datang nyelonong dan langsung duduk di samping Ki Somad. Ia memesan kopi baru kepada Mpok Nining.
“Sudah sore begini Ki Somad belum mau pulang?”
“Belum Din. Tanggung, kopinya masih setengah.”
Bang Udin tersenyum. “Kalau kopi masih ada, berarti pulang bisa ditunda, ya, Ki?”
Ki Somad terkekeh. “Begitu rupanya ukuran hidup orang zaman sekarang.”
Kutipan yang Mengusik Pikiran
Setelah beberapa saat menikmati kopi, Bang Udin mengeluarkan ponselnya.
“Ki, tadi saya baca sebuah kutipan. Dari tadi kepikiran terus.”
“Coba bacakan, Din.”
Bang Udin membaca perlahan, “Kalau suatu hari kita berdiri di hadapan Tuhan, kita tidak bisa mengatakan bahwa kita melakukan sesuatu karena diperintah orang lain. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa berbuat benar saat itu terasa tidak nyaman. Alasan-alasan seperti itu tidak akan pernah cukup.”
Ki Somad menyeruput kopi sebelum menjawab. “Bagus untuk direnungkan. Tapi jangan cuma jadi tulisan di layar ponsel.”
“Maksudnya Ki?”
“Kalimat bijak begini gampang disetujui ketika hanya dibaca. Yang sulit adalah menjalankannya ketika kita benar-benar dihadapkan pada pilihan.”
Bang Udin mengangguk. “Ngomong emang lebih gampang daripada melakoni.”
“Manusia emang sering lebih jago mencari alasan daripada mencari kebenaran,” kata Ki Somad.
Bang Udin tertawa kecil. “Saya jadi merasa tersindir.”
“Kalau merasa tersindir, berarti masih ada bagian dari hatimu yang tersentuh.”
Ketika Perintah Menjadi Alasan
Bang Udin kemudian bertanya, “Ki Somad, kalau seseorang melakukan sesuatu yang salah karena disuruh atasan, bagaimana?”
Ki Somad menatapnya. “Orang lain memang bisa memberi perintah, tekanan, bahkan ancaman. Keadaan ekonomi juga kadang membuat seseorang merasa terdesak. Tapi pada akhirnya, tangan yang melakukan tetap tangan kita.”
Bang Udin diam.
“Orang lain bisa menjadi alasan yang menjelaskan kenapa kita mengambil sebuah keputusan,” lanjut Ki Somad, “tetapi jangan menjadikan mereka sebagai alasan untuk menghapus tanggung jawab kita.”
Bang Udin menghela napas. “Kadang kita tahu sesuatu itu salah, Ki. Tapi takut menolak.”
“Takut kehilangan pekerjaan?”
“Iya. Takut rugi, takut dimusuhin, takut kehilangan kesempatan.”
Ki Somad tersenyum tipis. “Nah, di situlah masalah sebenarnya. Berbuat benar tidak selalu nyaman.”
Ia menatap jalanan yang mulai lengang. “Kalau kejujuran selalu menguntungkan dan kebaikan selalu mendapat pujian, semua orang akan mudah menjadi baik. Justru ketika pilihan benar membuat kita harus kehilangan sesuatu, keberanian kita diuji.”
Kalau kejujuran selalu menguntungkan dan kebaikan selalu mendapat pujian, semua orang akan mudah menjadi baik
Jaga Kompas Hati
Bang Udin kembali bertanya, “Kalau semua orang melakukan kesalahan yang sama, bagaimana?”
“Kalau semua orang di pasar ini mencuri, apakah mencuri menjadi benar?”
“Ya tidak, Ki.”
“Berarti jangan menjadikan banyaknya orang sebagai ukuran kebenaran.”
Ki Somad mengisap rokoknya.
“Orang lain boleh memberi nasihat, masukan, bahkan perintah dalam batas kewajaran. Tapi jangan pernah menyerahkan kompas hati nurani kepada orang lain. Sebab orang yang menyuruh mungkin bisa pergi dan melupakan semuanya. Kita yang harus menanggung akibat dari pilihan itu.”
Bang Udin terdiam. Ia mulai mengingat beberapa kejadian dalam hidupnya yang selama ini selalu ia tutupi dengan kalimat sederhana: Saya cuma ikut-ikutan. Saya cuma menjalankan perintah. Saya tidak punya pilihan.
Di Hadapan Tuhan
Sore mulai turun. Lampu neon Warung Kopi Mpok Nining menerangi meja kayu mereka.
“Din,” panggil Ki Somad pelan, “coba bayangkan suatu hari nanti kita berdiri di hadapan Tuhan.”
Bang Udin menatapnya.
“Di sana kita tidak membawa jabatan, seragam, nama besar, atau teman-teman. Kita juga tidak bisa menunjuk orang lain dan berkata, ‘Dia yang menyuruh saya.’ Yang ada hanya kita dan semua pilihan yang pernah kita ambil.”
Bang Udin menelan ludah.
“Karena itu,” lanjut Ki Somad, “jangan terlalu sibuk mencari siapa yang salah. Lebih baik bertanya kepada diri sendiri: ketika saya tahu mana yang benar, mengapa saya masih memilih yang salah?”
Bang Udin akhirnya berkata, “Kalau sudah terlanjur salah?”
“Akui.”
“Kalau masih bisa diperbaiki?”
“Perbaiki.”
“Kalau harus meminta maaf?”
“Minta maaf.”
Ki Somad tersenyum.
“Jangan habiskan sisa umur untuk menyusun alasan agar kesalahan terdengar benar. Gunakan waktu yang masih ada untuk memperbaikinya.”
Pulang Membawa Pertanyaan
Jam menunjukkan sekitar pukul enam sore. Bang Udin berdiri dan merapikan kantong dagangannya.
“Saya pulang dulu, Ki. Sudah sore.”
“Hati-hati di jalan, Din.”
Beberapa langkah kemudian Bang Udin berhenti dan menoleh.
“Ki Somad!”
“Iya?”
“Sepertinya sore ini saya tidak cuma minum kopi Mpok Nining.”
Ki Somad tertawa. “Memangnya minum apa?”
“Bahan pikiran satu keronjo penuh.”
“Jangan kebanyakan. Nanti kepalamu berat.”
“Sudah terlanjur masuk, Ki!”
Bang Udin melambaikan tangan dan memacu motornya.
Di lorong Pasar Babelan yang mulai remang, ia kembali mengingat semua kalimat pembenaran yang pernah digunakannya. Kali ini ia tidak lagi bertanya, Siapa yang salah?
Ia bertanya kepada dirinya sendiri, Apa tanggung jawab saya atas keputusan ini?
Warung kopi Mpok Nining semakin jauh. Namun pesan Ki Somad masih terasa dekat.
Jangan pernah menyerahkan kompas hati nuranimu kepada orang lain.
Bang Udin tersenyum tipis. Ia sadar, besok mungkin masih akan ada kesalahan. Ia tetap manusia yang bisa khilaf dan takut.
Tetapi sore itu ia belajar sesuatu yang sederhana: tidak semua kesalahan membutuhkan alasan. Sebagian hanya membutuhkan keberanian untuk mengakuinya dan kemauan untuk memperbaikinya.
Sebab pada akhirnya, yang kita bawa pulang dari kehidupan bukanlah panjangnya alasan, melainkan pertanggungjawaban atas setiap pilihan yang pernah kita buat.