Overthinking: Saat Pikiran Menjadi Penjara Diri Sendiri

Ketika terlalu banyak berpikir justru membuat langkah terhenti. Sebuah obrolan di saung tentang keraguan, keberanian, dan hidup

 Overthinking: Saat Pikiran Menjadi Penjara Diri Sendiri

Layar Kosong Terasa Menakutkan

Matahari siang itu sedang garang-garangnya. Dari balik rumpun pisang di tepi empang, udara panas berembus pelan membawa aroma lumpur dan rumput liar yang mengering. Sesekali suara anak-anak yang bermain layangan terdengar dari kejauhan, bercampur dengan bunyi daun yang bergesekan diterpa angin.

Saya duduk sendiri di saung bambu yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Di hadapan saya, laptop nganggur dari pagi. Layarnya masih menampilkan halaman kosong dengan kursor yang terus berkedip tanpa lelah, dengan sabar menunggu dan mengingatkan bahwa sampai siang itu belum ada satu kalimat pun yang berhasil saya tulis.

Padahal ide sebenarnya tidak kurang. Catatan ada. Referensi ada. Kerangka tulisan bahkan sudah tersusun di kepala. Namun semakin lama saya memikirkannya, semakin sulit rasanya untuk memulai. Setiap kali tangan hendak menekan tombol pertama, pikiran justru sibuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru. 

Bagaimana kalau tulisannya tidak menarik? 

Bagaimana kalau tidak ada yang membaca? 

Bagaimana kalau waktu dan tenaga yang dikeluarkan ternyata sia-sia?

Aneh memang. Kadang pekerjaan sederhana yang biasa kita lakukan justru terasa paling berat ketika terlalu lama dipikirkan.

Saya sedang menatap layar itu ketika langkah kaki pelan terdengar dari belakang saung.

"Masih kosong?"

Saya menoleh dan mendapati Ki Somad datang sambil membawa dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis.

"Masih, Ki," jawab saya sambil tersenyum kecut.

Beliau meletakkan kopi di atas meja, lalu duduk santai menghadap empang. Tidak langsung bertanya. Tidak langsung memberi nasihat. Hanya menyeruput kopi perlahan sambil menikmati semilir angin siang.

Obrolan Tentang Orang yang Terlalu Banyak Berpikir

Setelah suasana cukup tenang, Ki Somad menoleh ke arah saya.

"Sot, dari pagi lu ngapain aja?"

"Mikir, Ki."

Beliau tertawa kecil.

"Nah, itu dia masalahnya."

Saya ikut tertawa.

"Lah, masa mikir jadi masalah Ki?"

"Mikirnya gak salah. Tapi kalau dari pagi sampai siang kerjaannya cuma mikir doang, ya hidup kapan jalannya?"

Saya menjelaskan apa yang memenuhi kepala saya sejak pagi. Tentang rencana, strategi, risiko, kemungkinan gagal, dan berbagai hal yang menurut saya perlu dipertimbangkan sebelum memulai.

Ki Somad mendengarkan dengan sabar. Tidak memotong. Tidak membantah. Beliau hanya sesekali mengangguk sambil menyeruput kopi.

Ketika saya selesai berbicara, beliau memandang permukaan empang yang tenang cukup lama.

"Sot, lu pernah lihat orang belajar naik sepeda?"

"Pernah."

"Waktu pertama kali naik, dia udah ngerti cara jaga keseimbangan?"

"Belum."

"Terus kenapa akhirnya bisa?"

Saya tersenyum tipis. Karena jawabannya terlalu sederhana. Karena dia mencoba.

Ki Somad mengangguk.

"Kadang orang pengen semua jelas dulu sebelum mulai. Padahal banyak hal baru jadi jelas setelah dijalanin."

Beliau mengambil ranting kecil dan memainkan ujungnya di lantai bambu. "Gua pernah ketemu orang yang rencananya bagus banget. Sampai detail-detail kecil pun udah dipikirin. Tapi bertahun-tahun kemudian, hidupnya masih ada di tempat yang sama."

"Lah kok bisa begitu Ki?"

"Soalnya dia terlalu sibuk nyiapin rencananya sampe mateng. Tapi kagak berangkat-berangkat."

Saya terdiam. Kalimat itu terdengar ringan. Namun entah kenapa terasa berat ketika sampai di kepala.

Hidup Tidak Selalu Memberi Jawaban di Awal

Angin dari arah empang kembali berembus pelan. Di kejauhan, beberapa bocah ledok masih berlari mengejar layangan yang putus.

Ki Somad menunjuk ke arah mereka.

"Liat tuh bocah-bocah."

Saya mengikuti arah telunjuknya.

"Mereka kagak ngerti teori angin."

Saya tertawa.

"Kagak."

"Mereka juga kagak ngerti rumus aerodinamika."

"Jelas kagak."

"Tapi layangannya bisa naik."

Kami berdua tertawa kecil.

Suasana kembali hening sesaat sebelum Ki Somad melanjutkan.

"Gua kadang mikir, Sot. Mungkin salah satu masalah orang dewasa itu karena terlalu banyak informasi di kepalanya, terlalu Overthinking kata bocah kiwari."

"Maksudnya Ki?"

"Karena dia tahu banyak kemungkinan gagal, akhirnya dia takut mulai. Padahal waktu kecil dulu, kita belajar jalan juga jatuh berkali-kali."

Saya memandangi anak-anak yang masih berlarian di kejauhan. Tidak ada satu pun dari mereka yang tampak memikirkan tempat jatuhnya layangan. Mereka hanya berlari mengikuti arah angin.

Mungkin memang begitu caranya belajar hidup. Bukan dengan mengetahui semua jawaban terlebih dahulu. Melainkan dengan berjalan sambil menemukannya satu per satu.

bocah ledok mengejar layangan putus di sawah

Keluar dari Kepala dan Kembali Menjalani Hidup

Setelah beberapa saat, Ki Somad berdiri sambil membawa cangkir kopinya yang sudah kosong. Sebelum turun dari saung, beliau sempat menoleh.

"Boleh gua tanya satu hal lagi?"

"Boleh Ki."

"Kalau semua jawaban udah lu punya sebelum berangkat, perjalanannya masih menarik kagak?"

Saya tidak langsung menjawab. Karena semakin dipikir, semakin terasa bahwa sebagian besar pengalaman berharga dalam hidup justru datang dari hal-hal yang tidak pernah saya rencanakan sepenuhnya.

Menjadi suami. Menjadi ayah. Belajar mencari nafkah dari dunia yang terus berubah.

Tidak ada satu pun yang saya jalani dengan bekal kepastian penuh. Semua dijalani sambil belajar, sambil salah, lalu perlahan diperbaiki.

Ki Somad tersenyum melihat saya yang masih diam.

"Tulis aja dulu."

"Cuman itu sarannya, Ki?"

"Iya cuma itu."

"Kalau jelek?"

"Besok diperbaiki."

"Kalau gagal?"

"Ya belajar."

Beliau tertawa kecil lalu berjalan meninggalkan saung, menyusuri pematang empang ditemani bayangannya yang memanjang.

Saya kembali menatap layar laptop. Halamannya masih kosong. Tapi kali ini tidak lagi terasa menakutkan.

Mungkin selama ini saya terlalu lama tinggal di dalam kepala sendiri. Terlalu sibuk memikirkan kemungkinan sampai lupa bahwa hidup tidak pernah berjalan di dalam pikiran. 

Hidup selalu terjadi di luar sana, di tempat langkah pertama diambil, di tempat kesalahan terjadi, dan di tempat pelajaran ditemukan.

Saya menarik napas panjang, lalu mulai mengetik kalimat pertama. 

Di luar sana, anak-anak masih berlari mengejar layangan yang putus. Mereka tidak tahu layangan itu akan jatuh di mana. Tetapi mereka tetap berlari.

Dan mungkin, kadang, hidup memang sesederhana itu.



Posting Komentar

No Spam, Please.