Gak perlu malu (dumelan dini hari)

Saya kira tidak perlu malu untuk menutup kasus century kalau memang tujuan minimalnya menggulingkan Bu SMI sebagai Menkeu sudah tercapai. Dengan pengunduran diri SMI setidaknya DPR sudah membuktikan bahwa mereka lebih kuat dari pemerintah, jadi ketegangan antara pemerintah dan DPR diredam dengan mengorbankan SMI, korban politik yang terpaksa diambil oleh pemerintah jika ingin mengamankan wapres dan keutuhan rumah tangga koalisinya.

Vonis politik yang dijatuhkan melalui pengadilan ala DPR melalui pansus century yang ditegaskan melalui aksi walk out PDI dan Hanura saat sidang APBN-P terlaksana sudah. Setidaknya KPK juga kini dapat bernafas lega, tidak perlu KPK mengotori tangannya dengan melegalkan vonis politik melalui tuduhan penyalahgunaan wewenang ataupun korupsi kepada Bu SMI.

Media besar milik konglomerat partai sudah terlebih dahulu mengambil langkah dengan tidak lagi menampilkan tag "mengawal kasus century" di pojok kiri bawah layar televisi.
Saya kira tidak perlu pula malu untuk menentukan kriteria basa-basi calon pengganti SMI, intinya siapapun yang duduk disana setidaknya tidak akan membuat anggota dewan yang terhormat menjadi tampak inferior saat membahas ekonomi dan keuangan negara yang rumit itu. Atau mampu membangun hubungan harmonis dengan DPR yang memiliki hak pengawasan. Yah, penunjukkan menteri memang hak prerogatif presiden, tapi apa salahnya kalau partai mengusulkan kriteria dan jadi sponsor, barangkali saja bisa menanam saham budi baik dengan tidak mengajukan kelemahan sang calon sebagai kriteria. Bukankah itu jasa yang luar biasa dan patut dipertimbangkan sebagai bargaining point saat pembahasan usulan anggaran untuk rumor gedung yang miring misalnya?.


Oh yah, saya kira juga tidak perlu malu bagi para demonstran, ahli ini itu, nara sumber berita, penulis opini, komentator dunia maya dan penggunjing kelas warkop, baik dari kalangan mahasiswa, massa, ormas, grup, club, kelompok arisan ataupun perorangan yang dulu ikutan menyalak nyaring soal kasus century seakan pembela kebenaran penyelamat uang negara. Toh saat kasus ini mau ditutup kita manggut-manggut saja. Lagipula gak ada lagi yang mau bayar untuk kita mempertanyakan, kenapa harus di tutup, kenapa kasus ini tidak di selesaikan dst. Lagian kasus centuri itu seperti apa dan bagaimana juga saya gak ngerti, mungkin ICW mengerti, mungkin BPK ngerti, tanya saja sama mereka kalau begitu, mungkin mereka mau mempertanyakan kenapa kasus ini ditutup. kalau BPK kayaknya cuma bikin audit doang, habis itu gak kedengaran lagi kabarnya. Nah ICW tuh, press release nya soal kasus century kelihatannya cukup baik tersusun, mudah-mudahan mereka sempet menanyakan penutupan kasus ini.

Banyak pelajaran yang sangat berharga dari pengunduran diri Bu SMI. Tapi yah, kita ini khan pelupa, sekalipun ingat hehehe gampang dibayar untuk pura-pura lupa.

Oh iyah, saya kira partai-partai juga tidak perlu malu kalo pengganti Bu SMI itu dari partai, partai mana sajalah yang penting bukan dari kalangan profesional. Nah kalo Menterinya orang partai, saya yakin kasus century ini gak ada apa-apanya, mungkin akan ada pansus kasus apalah yang pastinya lebih ramai dari kasus century, ributnya partai lawan partai, yang demo nanti para pendukung partai saja, jadi semakin jelas, kampus yang itu partai apa, mahasiswa yang itu partai apa, media yang sana partai apa... di jamin, menculik miyabi gak bakal laku!.

Oh yah, soal reformasi birokrasi yang menjadi andalan Bu SMI siapa yang meneruskan?
waduh pertanyaan ini bikin saya susah, saya malas mikir, tanya saja anggota dewan, kemarin mereka mengusulkan remunerasi dihapuskan karena tidak menghasilkan kinerja superman. Kalau anggota dewan yang terhormat saja sudah berpendapat demikian, apa masih perlu menanyakan reformasi birokrasi, masih perlukah mengimplementasikan konsep good governance dengan segala indikator yang bikin beberapa departemen kalang kabut itu?

DPR sudah membuktikan bahwa mereka lebih kuat daripada pemerintah sekarang, saat pemerintah ingin melakukan reformasi yang nyata dan bukan dagangan politik, apa DPR merestui? Keberhasilan pemerintah saat ini mungkin merupakan prestasi bagi partai dari mana pucuk pemerintahan berasal, tapi itu momok bagi partai saingannya, itu akan menjadi isu penghalang untuk memenangkan pemilu selanjutnya.

Dipemilu yang akan datang, partai pemenang pemilu dan darimana presiden berasal saat ini akan banyak memiliki raport merah, kegagalan UN, kegagalan reformasi birokrasi, korupsi yang tetap ada, ekonomi yang semakin merosot, bukankah itu merupakan bukti untuk meninggalkan partai itu dan beralih ke wakil partai lain?

So.. dimanakah kita sekarang dan mau kemana?
Ah saya gak perlu malu kalo gak bisa jawab itu, tanya sama wakil kita aja deh.
kalo mereka gak bisa jawab, yah terserah mau malu atau tidak... bukan urusan saya kok.

6 komentar

avatar

Wuih, sedap beneeer. Ramuannya paaaas! Thanks y mas bisot dah mewakili dumelan kt jg dgn begitu mantapnya. He he
Usul yuk, ada mata kuliah 'komentator', coz prospeknya begitu menjanjikan n ga perl bany modal. selain itu td mahzab 'g perlu mers malu'..... ;-)

avatar

;) siip.. itu cuma dumelan mbak, gak ilmiah sama sekali... daripada jadi jerawat mending krimbat..(*apaan sih..) mata kuliah "komentator" malah gak bagus mbak biarin aja tumbuh dengan liar, tar kalo ada mata kuliahnya dikira mau bikin standarisasi komentator hihihihi

avatar

Om, yuk buat partai juga, namanya Partai Kopi, jadi setiap ada skandal yg melibatkan partai ini kita beri saja kopi, apalagi susunya pas dan kenyal...wuihhh....asik gila..heheh :)

PISS ya....

avatar

@ Haerul: siip, gw dah punya partai rul, partai blukutuk hihihihi =))

avatar

Analisis yang menarik dari Om Bisot..
Untuk pertanyaan ini [So.. dimanakah kita sekarang dan mau kemana?] jawaban saya : skrng kita di sini dan tak akan pernah kemana-mana, selama perpolitikan dipenuhi pola-pola transaksional dan para wakil kita lebih banyak bicara utk kepentingan pribadi daripada bekerja untuk rakyat banyak,b-(..

Salam Kenal Om,. ;)

avatar

@ Doddy: Salam kenal juga :)

"kita tak akan pernah kemana-mana"... sebuah mimpi buruk setelah sekian lama merdeka, setelah sekian lama reformasi =((

Klik untuk komentar