Q FMS


Kalimat ini mengagetkan saya:
''Manusia dilahirkan telanjang tanpa pakaian, dan ketika meninggal ia dibungkus kain kafan. Apakah hanya itu yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya? kain kafan?''

Dalam keseharian kita menyusuri umur hingga saat ajal, semoga banyak amal kebajikan yang telah kita tebarkan. Entah mengapa, banyak orang mengidentikkan kata "Amal" dengan uang, tidakkah itu mempersulit diri sendiri namanya?. Betapa tidak adilnya Tuhan, jika "amal" identik dengan uang, karena akan banyak orang yang akan sulit beramal jika demikian adanya.


Bahagialah kita, karena ternyata sebuah senyum dapat pula menjadi amal. Dan ladang amal tidak terlalu sulit untuk dicari, ladang amal terbentang luas dirumah kita. Rumah kita, mungkin dihuni oleh orang tua kita, saudara-saudari, istri atau anak. Kita dapat mempererat tali silaturahim dan beramal tanpa batas diladang yang indah ini. Sesibuk apapun, rumah adalah tempat kita beristirahat, sebuah tempat yang karenanya kita mengenal kata "pulang". Oleh karenanya, akan selalu ada waktu untuk berinteraksi dan beramah tamah dengan penghuni rumah kita.

Ada juga yang berdalih bahwa quality time jauh lebih penting ketimbang quantity time. Hal itu mungkin, tapi kasih sayang dan pengertian hanya akan terbina melalui proses interaksi yang bertahap dan membutuhkan waktu. Betapa banyak dari kita yang cukup puas dengan memberikan sejumlah uang kepada orang tua atau keluarga kita tanpa pernah mau tahu mengenai bagaimana keadaan mereka yang sesungguhnya. Betapa indah jika kita meluangkan sejenak dari waktu lenggang kita untuk mencoba mendengar, berbagi dan berbicara lebih pribadi terhadap mereka. Memberi tidak harus bernuansa materi. Bahkan memberikan perhatian sebenarnya jauh lebih berarti ketimbang memberikan materi yang sifatnya amat terbatas

Quoted For My Self From:
http://marvelouse.multiply.com/journal

Klik untuk komentar