Sampai kapan?

Senin, 4 Juni 2007 @ 11:16 WIB


Sampai kapan?

pertanyaan basi yang menunjukkan keputus-asaan atau mungkin bosan dengan ketidak pastian.

Ah, bukankah mereka yang bosan dengan ketidak pastian adalah mereka yang paling keras cemoohnya kepada hal yang menunjukan kepastian.

Kematian adalah pasti, jika kau suka dengan kepastian, kenapa harus kau tutupi guratan umur di pipimu? kenapa kau tutupi rambut putih yang mulai hadir disela rambut kemilaumu?

Hadapi saja.... sebuah lagu dari Bang Iwan Fals mengumandang.



Aku pernah bingung, yah betapa tidak, menelan jutaan retorika manis tentang kehidupan yang hanya menanam pagar2 tak tampak disekeliling jalan dan arah, lho... langkah mana yang akan kupilih?

tidak ada pilihan kecuali mencabut semua pagar itu, bakar habis dogma dan norma artifisial yang bukan milikku, itu semua pagar orang lain yang kutanam untuk melindungi hatiku. Bah.... sampai akhirnya ku pahami tak akan ada suatu apapun yang dapat menyakiti hati dan jiwaku kecuali atas ijinku.

Aku punya perasaan, namun apa yang akan kurasakan adalah sepenuhnya pilihanku, kau dapat mencoba menyakitiku dengan segala macam daya, maaf saja, hatiku memilih untuk mengkonfersi duri2 itu menjadi bunga. This is my own fuckin life, this is my world, my rule... Aku tetap merasakan duri itu, namun aku memutuskan untuk tidak terluka dan terus melangkah... duri2 itu tidak lebih besar dari tujuan dan misi hidupku.

menikmati kesederhanaan hidup, menikmati segelas air putih.... daun2 yang berguguran...
di persimpangan ini, aku hanya tahu bahwa aku disini dengan misi pribadi yang jelas dan tujuan yang agung, terima kasih atas semua petunjuk dan kasih-Mu ya Tuhan seru sekalian alam.

Klik untuk komentar