IMHO: zakat


Mencermati kejadian di Pasuruan yang menimbulkan korban nyawa karena antri untuk menerima zakat, yang katanya sebesar 20-30 ribu rupiah, begitu banyak hikmah yang terkandung didalamnya.

Gw baca editorial kompas (kalo gak salah inget hihihi), dimana editorial itu menyoroti soal kemiskinan, bahwa kadang kemiskinan juga bisa beringas. Saat jumlah yang ingin menerima lebih banyak dari pada yang tersedia untuk diberikan, maka di sana tidak lagi terjadi aktifitas memberi dan menerima, tapi merebut, merebut dengan insting kompetisi yang beringas. Kebenaran teori ini dapat kita lihat saat pembayaran BLT di daerah kita masing-masing.

Ada juga komentar, demi uang 20-30 ribu yang dibandingkan dengan biaya perawatan rumah sakit atau penguburan bagi yang meninggal sepertinya tidak sepadan. Sayangnya, logika seperti itu tidak dikenal bagi sebagian masyarakat miskin yang biasa membanting tulang demi uang yang lebih kecil lagi jumlahnya dari itu.

Yak, gw masih bisa menceritakan banyak lagi, tapi intinya memang faktor kemiskinan finansial jelas nyata tanpa perlu dijelaskan.

Disisi lain, gw jadi instrospeksi mengenai pemahaman gw tentang zakat. Gw sendiri dalam skala yang lebih kecil juga melakukan hal serupa tiap tahunnya. Menyisihkan zakat maal untuk gw sumbangkan secara langsung kepada anak yatim atau fakir yang tinggal dekat rumah orang tua gw.

Mengenai zakat profesi, gw menganut pemahaman yang tidak perlu menunggu haul, sehingga gw aplly pemotongan zakat langsung dari gaji perbulan. Adapun untuk uang tabungan dan lainnya, barulah gw pakai sistem haul (penggenapan tahun) perbulan ramadhan.

Kalo ada yang tertarik dengan filosofi zakat, gw rekomendasikan bukunya Sayyid Quthub yang diterjemahkan dengan judul "Keadilan sosial dalam Islam", sedang kalo mau tahu bagaimana menghitung dan praktisnya, gw rekomendasikan situs www.rumahzakat.org atau silahkan cari referensi lainnya misalnya wiki: >> http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat



Just for share#

Klik untuk komentar