begitukah?

Jumat, 10 November 2006 @ 08:42 WIB



Aristoteles berkata, kita adalah apa yg kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu keluarbiasaan melainkan sebuah kebiasaan.

Karakter kita terjalin dari kebiasaan-kebiasaan kita, hukumnya seperti ini:
Taburlah gagasan, tuailah perbuatan.
Taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan.
Taburlah kebiasaan, tuailah karakter.
Taburlah karakter, tuailah nasib.

Kebiasaan mungkin juga seperti tali, kita menenunnya seuntai demi seuntai setiap harinya dan segera saja kita tersadar tali itu sudah melilit kita dan sulit untuk diputuskan begitu saja, begitu kata Horace Mann.

Self recovery tidak mudah, namun jika kita telah melalui kita akan terlahir kembali sebagai pribadi mandiri. Mandiri dalam pengertian mature, bebas dari skenario-skenario yang ditulis lingkungan, keluarga atau orang lain. orang lain dapat saja mengatakan
"gue gak percaya elo berubah"
"Screw your head, I know who you are!!!"
atau perkataan ajaib lainnya, bagi pribadi2 yang mandiri, perkataan2 negatif tidak serta merta meruntuhkan kepercayaan dirinya, justru memperteguh tekadnya. "Ini hidup saya, apa yg sudah menjadi keputusan saya dan apa yang saya kerjakan hari ini adalah hasil perhitungan yang saya pertaruhkan dengan masa depan saya dan bukan masa depan anda". Minimal keputusan dan tindakan kita adalah hasil dari kebiasaan kita yang telah kita buktikan keefektifannya dan merupakan hasil spontanitas insting yang telah kita asah dengan berbagai disiplin dan perenungan yang dalam.

Kitalah yang bertanggung jawab 100% atas masa depan kita, kepada kita telah di anugerahkan talenta dan kemampuan untuk bertindak, berbuat dan bukan menjadi sasaran dari sebuah tindakan atau perbuatan. Tuhan telah memberikannya kepada kita, kenapa kita sia-siakan?

Klik untuk komentar