dumelan gak jelas menjelang weekend


The professors in the academy say, "Do not make the model more beautiful than she is,"
and my soul whispers,
"O if you could only paint the model as beautiful as she really is."
(Extract from one of Gibran's letters dated 8th November 1908)

Kita sangat sering memimpikan kebahagiaan, kesenangan dan segala macam romansa kehidupan dengan happy ending yang spektakuler. Kita memelihara segala impian itu, memolesnya setiap saat seiring dengan pemahaman dan dogma yg kita telan setiap saat, entah melalui TV, Majalah, Surat kabar, Teman kerja, Atasan dst.

Mimpi yang kita pahat menjadi berhala dalam imaji ini kadang lupa bahwa ia hanyalah sebuah mimpi. Ia mulai yakin bahwa ia lebih cantik dan sempurna dari kehidupan nyata. Ia mulai berani memerintah kesadaran kita untuk menuruti segala kebutuhannya. Ia berkolusi dengan ego dan nafsu untuk memperbudak dan memonopoli kehidupan kita.

Berhala ini sangat yakin bahwa dialah "Das Sein", sebuah "Maha", idealisme adi luhung yang sempurna. Dan sedihnya kita tak jarang, bahkan terlalu sering mempercayai dan membiarkan ia menjadi penerjemah, penasehat dan pembuat keputusan. Dia telah kita angkat menjadi manager sekaligus direktur, sedang kita menempatkan diri kita hanya sebagai budak fulltime tanpa istirahat.

Mungkin juga sulit bagi kita untuk membicarakan "berhala" ini lepas dari diri kita, karena sering kali kita sudah tidak dapat membedakannya lagi, kapan kita berperan bebas sebagai diri kita yang sebenarnya, atau sedang menjalankan sebuah misi kamikaze dari yang dipertuan agung, diktator kaisar, cita-cita ideal yang maha menjadi.

Coba tanya kehati kita yang dalam, apa tujuan hidup kita...
Belum lagi kesadaran kita mencerna pertanyaan itu, "berhala" ini dengan mastodon dan pelacurnya menghadang hati kecil kita untuk bekerja. Mastodon yang mengkompilasi segala kekejian dan kebengisan penjaga penjara dari jaman Hitler hingga Guantanamo ini kita percaya memiliki kemampuan membunuh nurani, padahal ia tidak lebih dari sebuah sistem proteksi yang dirancang bangun oleh kita sendiri untuk melindungi berhala mimpi utopis tak berkesudahan ini. Pelacurnya siap dengan segala macam obat bius layaknya Medussa hingga erotisme dari mimpi yang terliar seorang Freudian dengan ketangguhan fisik sekelas Julias Caesar, achiles atau alexander the great.

Dengan perangkat otonom yang serba super itu, masihkah kita dapat sekadar mengenali berhala ini? atau tiba2 kita punya keinginan untuk membuang jauh segala pengaruh berhala ini dan kembali hidup sebagai manusia ciptaan Tuhan, yang merdeka, berdaulat dan bermartabat?.
Tidakkah keinginan ini adalah subversif?.
Yakinkah kita bahwa keinginan bebas itu bukan kampanye berhala lain yang sedang kita bangun dan sedang menyusun kekuatan sebagai new emerging force?.
Oportunis2 ini tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk berkuasa.


Kembali ke gumaman Gibran
"Dapatkah saya melukiskan dia seindah aslinya?"

Sebuah kesadaran sederhana yang menjadi agung. menjadi agung karena manusia memiliki kemampuan berfikir sangat fantastis dan kadang keblinger, manusia memiliki kemampuan seorang psikopat untuk berusaha membangun sebuah istana diatas langit, tidak kurang, juga memiliki kemampuan seorang narsisis untuk tinggal di istana langit itu. Fakta yang memprihatinkan adalah, mereka harus membayar sederetan Psikiater dan Psikolog karena telah tinggal di istana langitnya. Jika tidak membayar! tentu saja peradaban modern memiliki sistem untuk segera mengantar psikopat dan narsisis itu segera kelangit, entah dengan suntik mati atau dibiarkan kerasnya alam yg mengantar mereka.

Eit sebentar dulu bos, ada jalan pintas... NARKOBA!
yah memang narkoba bukan mainan anak kecil, yang sudah gak mau dianggap anak kecil berbondong2 ngantri untuk menjadi fans, dan its done! Siklus hidupnya berhenti disana. Tercapailah impiannya agar tidak lagi dianggap anak kecil, karena secara instant mereka kini dianggap "ALMARHUM"... yah minimal hidup enggak, mati sih pasti...... Congratulations idiot!!!

Akhirnya saya setuju dengan professor yg melarang Gibran untuk melukiskan apa saja melebihi keindahan aslinya dan saya pun kagum dengan kerendahan hati seorang Gibran yang mengakui ketidak mampuannya melukiskan apa saja seindah aslinya. Toh akhirnya lukisan tetaplah lukisan, seindah apapun itu tak akan pernah sama atau melebihi keindahan aslinya. Apalagi impian yg abstrak!!!

Selamat bermimpi.


salam.




ochep   Jumat, 30 November 2007 @ 13:51 WIB


tulisan yang bagus...tapi gw gak ngerti...maaf ya ganteng tapi bau...

bisot   Minggu, 2 Desember 2007 @ 10:45 WIB


wkkk namanya jg dumelan gak jelas kang. he3 biar bau yg penting ganteng. tinggal mandi parfum, wkkk

koesplator   Jumat, 30 November 2007 @ 14:18 WIB


bahasanya 'berat' juga hehehe tapi ok &
logonya bagus tuh

bisot   Minggu, 2 Desember 2007 @ 10:49 WIB


berat yah mas? jangan diangkat mas, dibaca aja wkkk

sastrawiguna   Sabtu, 1 Desember 2007 @ 07:42 WIB


hhmmmmm...
terlalu sering kita terbuai oleh mimpi,
maunya sukses, bahagia, senang..dan beribu mimpi mimpi lain.
ada hal yang terlupakan yakni "proses" mengejar mimpi itu sendiri...padahal itu sangat penting.
tuhan sudah menggariskan semuanya...
bermimpi??sah sah saja, sepanjang tidak menampikan
ada kekuatan yang "maha",....
bisot, gw dapat ilmu lagi negh, bagaimana mengejar mimpi tanpa melupakan yang memberi mimpi itu sendiri..thx..jadi inspirasi buat gw...

bisot markesot   Minggu, 2 Desember 2007 @ 10:52 WIB

sama2 mbak. eh mbak atw teteh nih?

sastrawiguna   Minggu, 2 Desember 2007 @ 12:59 WIB

teteh..boleh....

Klik untuk komentar