malamasihitam

Hai brur n ses, lg pd ngapain?
Blom pada mudik?
Hmmmm bisot mau posting cerita ah, gak tahu degh, ceritanya masuk kategori cerpen, prosa, pokoknya asal tumplek aja yeh, yang mau komentar, nanggepin, nimpukin wkkkk silahkaaaaannnnn, free of charge.
Kalo Abell, Deesan, Dyna n blogger yg biasa bikin cerpen terus mau koment yg buanyak, wuih makasih sebelumnya yah, thxin advance degh 4 ur appresiasinya....

dagh ah, tar kebanyakan ngomong, here we go...

_____________________________

MALAMASIHITAM


Gelap malam belum beranjak pergi saat mata Ani mulai merekah menatap cerah atap plastik yang menaunginya dari angin dan embun malam.
Disampingnya tergolek sang dewa penolong yang telah 10 tahun ini menjadi teman hidup di Ibukota.
Dilipatnya perlahan kain bekas spanduk beralaskan kardus yang menjadi kasurnya. Memanaskan air diatas tungku minyak tanah yang ditampung dengan bekas kaleng susu kental manis ternama yang sudah dipenuhi karat.
Hari ini Jakarta sepi, sudah ribuan penduduknya yang migrasi tahunan alias mudik untuk merayakan lebaran dikampung halaman.

"Bang, bangun bang, sahur bang."

tanpa berkata apa-apa lelaki itu bangun, secara reflek tangannya meraih gelas plastik dari tangan Ani.

"fuihh masih panas, nih kopi."
"Iya bang, baru aja di seduh."
"Ini nasi dari mana?"
"Ini tadi ada yang nganterin, katanya dibagiin oleh artis tadi buat sahur bang".

Tak lama merekapun melahap habis nasi bungkus dengan lauk yang lumayan mewah, dadar telur ayam, sepotong ayam goreng dan nasi pulen berkuah rendang.
Fajarpun datang, mengeringkan sisa embun didedaunan taman kota dimana disudutnya Ani dan suaminya menghabiskan malam tadi.

Sebelum 10 tahun lalu, Ani tidak pernah sempat melihat matahari merangkak naik menerangi kota. Hidupnya milik malam, hanya milik malam. Menelusuri setiap gelap dipinggir sebuah jalan, berharap senyumnya menjerat hasrat lelaki hidung belang.

Sebuah belati telah mengubah haluan hidupnya.
Malam itu, sebuah malam yang tak akan menjadi purba dalam ingatannya, seperti biasa, Ani dijemput seorang pemuda tanggung. Setelah menjalankan tugasnya, bukan uang ganjaran yang diterimanya melainkan sebuah tikaman yang luput menghujam diperutnya, namun sempat mengiris tajam ditangan kanannya.

Ani kalap, menjerit histeris dan berontak melawan dengan segala cambuk dan taring yang ia asah disetiap malamnya. Sang pemuda tetap beringas, walaupun telah merebut tas dengan dompet dan telepon genggam didalamnya, masih juga mengincar perhiasan yang masih melekat ditelinga Ani.

Beruntung, seorang pemulung datang dan berhasil menghalau sang pemuda dan meninggalkan Ani yang shock mendekap tas berusaha menutupi tubuh atasnya yang masih telanjang.

Malam itu betapa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menikmati malam dan telah mengirimkannya seorang dewa penolong. Dewa penolong yang telah sepuluh tahun ini menjadi tempatnya berlindung.

Yah, mungkin Ani sudah gila karena mengubah haluan hidupnya,
karena rela tinggal digubuk kumuh kolong jembatan, dlsb sebagaimana yang dicemoohkan teman-temannya.
"Udah gila lu mau hidup sama gembel?" dlsb.

"Aku ingin memiliki hidupku sendiri", kilahnya
"Aku ingin malam-malamku menjadi milikku seutuhnya dan aku ingin menikmatinya bersama orang yang aku pilih, bukan sebaliknya."

Sejak saat itu, Ani mencintai pagi, merajut hidupnya dari limbah plastik air minum mineral yang berhasil ia kumpulkan bersama dewa penolongnya.

Jika suatu malam ia berada disekitar teman-temannya yang masih setia menjadi hamba malam, ditenda-tenda gelap pinggir rel kereta, di gerbong-gerbong tua hingga petakan sempit, ia dengan teliti memunguti botol-botol dan gelas plastik dengan bangga, karena malam bukan lagi tuannya.

Tak ada yang berubah, malam masih hitam, masih kejam. Namun kini Ani melewatinya dengan senyum sejati seorang perempuan, senyum kesetiaan dan kedewasaan, senyum seorang bidadari yang tetap menatap kedepan dengan penuh harapan.

Saat ribuan manusia berdesak-desakan dalam arus sentimentil demi sebuah seremonial bernama lebaran dengan baju baru dan perhiasan yang wah untuk bernegah-negah dikampung halaman. Ani dan suaminya menyambut Idul Fitri dengan jiwa yang baru, semangat baru akan kebermaknaan kehidupan. Disini, hanya dia, suaminya dan Tuhan.

"Gak usah sedih, ni. Kita juga mudik, jiwa kita mudik kedalam hati, tempat Sang Maha Pengasih bertahta" hibur suaminya
"Kampung kita yang sebenarnya adalah dimana nanti kita dikubur ni" lanjutnya.

Sesaat setelah shalat ied, saat para jamaah bersalam-salaman halal bihalal, Ani dan suaminya akan terlihat sedang mengumpulkan koran bekas alas sajadah, dia tidak berada dibarisan para pengemis yang berbaris dipintu gerbang Masjid sejak pagi buta tanpa mengikuti shalat kemenangan para Muttaqin.

Taqabbalallahu minnaa wa minkum.



11 Oktober 2007, Rusun Cengkareng.
Belakang Taman Palem Plaza.






  Komentar: 4 

jie_nugros   Kamis, 11 Oktober 2007 @ 13:28 WIB   
mereka bisa dicontoh tuuuuuuuuu
mhimi   Kamis, 11 Oktober 2007 @ 13:34 WIB   
setojo...!!
eh udah balik ke sengkang nich?
ochep   Kamis, 11 Oktober 2007 @ 13:58 WIB    
mampir2ah daeng...mentang2 tak pernah ku kasih sangu bila berkunjung ke tempatku...

btw surveilance sampe nginep gitu gimana ceritanya?? sempet2nya nulis blog pula hehehe


maaf lahir dan bathin bro...salam buat aiz dan adek...
khutrayudi   Kamis, 11 Oktober 2007 @ 15:08 WIB  
wowwww!!!!

dapet ilham dari mane lu sot, ampe bisa nulis sebagus itu..
yeah pilihan si ani bener banget
semoga gue bisa seperti dia..
memilih yang benar...amiin

met lebaran ya sot

mninal aidin walfaidzin, maap lahir batin

ps: i miss you bro

Klik untuk komentar