famine? yes I am





Klik gambarnya untuk membaca Ms. Magazine Online



Germaine Greer sang penulis buku The Whole Woman (1999), menggambarkan perjalanan melelahkan kaum feminis dalam upaya mereka memperjuangkan kesetaraan gender.

Greer menggambarkan betapa sesudah berpuluh tahun gerakan feminisme, gadis-gadis kita masih dijajah oleh konsep "wanita cantik", yang belum berubah; miliaran anak perempuan berdiet keras dan menghabiskan uang untuk kosmetika dan fashion agar menjadi objek seks dan kegairahan pria. Bahkan, menurut Greer, kebebasan seks yang menyertai revolusi gender malahan lebih sering merugikan wanita. Apa yang disebut "kebebasan seks" hanya menguntungkan pria, kata Greer, karena wanita terus saja harus merasakan efek terpentingnya yakni kehamilan dan perubahan metabolisme alat reproduksi biologi, sementara tubuh laki-laki sama sekali tidak terpengaruh.

Satu lagi area yang menggambarkan betapa feminisme berpuluh tahun tidak berefek baik pada wanita adalah pornografi. Greer menyoroti betapa sesudah feminisme yang berusaha menjadikan wanita sebagai subjek, industri pornografi yang menghina dan merendahkan wanita dan menjadikannya objek seks terus menggelembung menjadi industri miliaran dolar tiap tahunnya.

Ini catatan Forbes mengenai uang yang beredar dalam industri porno:

Adult Video $500 million to $1.8 billion
Internet $1 billion
Pay-Per-View $128 million
Magazines $1 billion
Total $2.6 billion to $3.9 billion
Sources: Adams Media Research, Forrester Research, Veronis Suhler Communications Industry Report, IVD

Akhirnya Germaine Greer mengakui bahwa berbagai strategi yang dipakai di tahun 1960-an tidaklah membawa hasil yang jelas kalau bukan malahan membawa kerusakan. Yang terjadi saat ini bukanlah pembebasan wanita dari ketertindasan tetapi tidak lebih dari sekedar menggantikan ketergantungan wanita dari satu hal ke hal lainnya.


Wanita memberontak dari ketergantungannya terhadap pria di awal gerakan feminisme, terutama di tahun 1970-an, tetapi mereka kini ganti tergantung pada hal-hal lain seperti industri kosmetika dan fashion.

Germaine Greer adalah penulis buku terkenal berjudul The Female Eunuch. Dia berargumentasi bahwa menjadi perempuan dan ibu rumah tangga saja tidaklah cukup bagi wanita. Buku ini menjadi semacam kitab suci kaum feminis.

===

Lain penuturan Bella Abzug perempuan aktivis feminisme dari kalangan Yahudi yang ikut berperan besar dalam penggodokan Plan of Action Konferensi Beijing 1995. Selama puluhan tahun Bella berada di garis depan kaum feminisme yang menyuarakan kemandirian dan kesamaan hak bagi perempuan di segala lini.

Ketika Bill Clinton berkuasa, dia menjadi salah satu pendukung vokal Partai Demokrat. Di belakang wanita yang tampak perkasa ini terdapat Martin, suaminya yang pendiam yang selalu mendukung semua sepak terjangnya. Dalam Ms Magazine. 1990, (majalah kaum feminis terkemuka) Bella menulis artikel "Martin, What Should I Do Now?"(Martin, Apa yang Harus Kulakukan Kini?) tentang betapa kematian Martin membuatnya bagai kapal kehilangan kemudi.

"Saya memiliki reputasi sebagai seorang perempuan mandiri, dan memang saya mandiri. Tetapi jelaslah sebenarnya saya tergantung pada Martin. Dia sering merengkuhku ke dadanya yang berbulu dan hatinya yang hangat untuk melindungiku dari semua kebusukan yang mesti dialami orang-orang yang hidup di jalanku ini. Apa yang bisa kukatakan? Hanyalah ini, "Hargailah hubungan (antarmanusia) dan lakukan apa saja yang bisa kau lakukan untuk memeliharanya". Belum lama ini saya bermimpi dan bertanya kepadanya, "Martin, Martin, apa yang harus kulakukan sekarang?, Dia hanya tersenyum lalu menghilang".

===

Gloria Steinem, menulis juga dalam Ms. Magazine (edisi musim panas 2003), sebuah artikel
yang bernostalgia tentang kehidupan manusia primitif Australia berabad lalu. Menurut Steinem kehidupan kaum primitif Australia itu ditandai pembagian kekuasaan yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, dan antara manusia dengan alam, karena semuanya adalah bagian dari satu kesatuan yang sama.

Dalam artikel berjudul Remember Our Power (Ingatlah Kekuatan/Kekuasaan Kita) itu Steinem menggambarkan harmoni ketika para kepala suku memang dipilih dari kalangan pria tetapi dengan mendengarkan nasihat kaum wanita. "Semua ini memiliki satu tujuan, keseimbangan, antara pria dan wanita, antara tiap manusia dengan masyarakatnya, antara manusia dan alam, kalau pun memang semuanya itu dianggap terpisah satu sama lain".

Sungguh kedengaran indah dan harmonis, bukan? Namun bandingkan dengan artikel Steinem di majalah Ms. Oktober 1978 yang berjudul If Men Could Menstruate* (*pdf) (Kalau Saja Lelaki Bisa Menstruasi) yang penuh dengan olok-olok tentang betapa apa pun yang melekat pada diri pria akan dijadikannya alasan untuk menancapkan supremasi kekuasaan mereka.

Kalau saja lelaki bisa mens, menurut Steinem, maka akan terjadilah male competition tentang misalnya
"Saya ganti pembalut 3 kali sehari, Anda berapa?"
"Berapa lama Anda mens? Wah, banyakan juga saya" atau bahkan dijadikannya mens sebagai
syarat untuk menjadi tentara "Anda harus meneteskan darah diri sendiri sebelum meneteskan darah orang lain!".

===

Ketiga ikon feminisme ini, Gloria Steinem, Germaine Greer, dan Bella Abzug, menggambarkan sebuah perubahan besar yang terjadi dalam kurun waktu beberapa dasawarsa, yaitu sebuah pergeseran pemikiran feminisme yang sangat signifikan mengenai posisi mereka dalam relasi gender dan kekuasaan.

Diawali gerakan emansipasi di Amerika awal tahun 1900an, ketika wanita menuntut hak dan perlakuan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, kaum feminis menggunakan battle-cry atau teriakan perang yang beragam, mulai dari "persamaan hak", "persamaan kekuasaan", "perbedaan pria dan wanita hanyalah soal pengasuhan dan konsep sosial" sampai kemudian, akhir-akhir ini, kesadaran bahwa perbedaan pria dan wanita memang bersifat biologis dan tidak bisa dielakkan. Pendulum gerakan feminisme mulai berayun ke arah yang berlawanan dengan gerakan di awal-awal lahirnya dulu.

Professor T.J. Winters (Universitas Cambridge), mencatat bahwa feminisme tahun 1960-an dan 1970-an adalah "Feminisme kesejajaran" yang berjuang menghancurkan ketimpangan gender yang menurut mereka semata-mata social constructs yang bisa diubah lewat pendidikan dan media. Sedangkan feminisme tahun 1990-an adalah "feminisme perbedaan" yang berakar pada semakin tumbuhnya kesadaran bahwa faktor alami (nature) itu sama pentingnya dengan faktor pengasuhan (nurture) dalam pembentukan perilaku pria dan wanita.

Kesimpulan Professor T.J. Winters dalam artikelnya Boys will be Boys ini adalah bahwa pada akhirnya memang ada faktor-faktor tak terbantahkan yang bertanggungjawab pada perbedan pria dan wanita dan ini semakin lama semakin diterima oleh para pemikir feminisme.

Bagaimana dengan Indonesia?
Kebanyakan feminis di sini masih menyuarakan gender equality "dominasi budaya patriarki". Hal yang diperjuangkan oleh Feminisme Internasional sejak 1970an. Masih Jauh jalan untuk sampai ketitik "feminisme perbedaan". Dan memang kondisi kesadaran gender di Indonesia belumlah kondusif untuk ide "feminisme perbedaan" apalagi untuk ide "keseimbangan relasional".

Stand Up for your right girls!!!


Reff:
disarikan dari Artikel menyambut Hari Kartini 21 April 2006 oleh Santi Soekanto, seorang wartawati senior yang 12 tahun silam meliput Konferensi Wanita Dunia di Beijing.
Arsip ada di SINI 

Klik untuk komentar