Coz you really deserve the best

Nikah

Sulit juga bagi saya menjelaskan secara sederhana terkait masalah pernikahan khususnya dari segi Hukum Islam. Padahal seandainya dapat dirampung dalam sebuah buku kecil mungkin akan sangat membantu saudara-saudari kita untuk memahami dan membedakan mana Syariat pernikahan dalam Islam serta dalilnya dan mana syarat2 yang berasal dari adat, budaya dan jangan lupa Negara.

Secara sederhana tanpa maksud menyederhanakan, Hukum pernikahan dalam Islam lebih dapat dikenali dengan konsep "kontrak", dimana disyaratkan kesepakatan dari dua pihak (calon mempelai) yang sederajat tanpa paksaan, ada wali atau kuasa dan ada saksi. Itu adalah syarat yang telah ditetapkan dalam syariat. Syarat ini wajib dipenuhi sebelum berlanjut keacara pokok yaitu ijab-kabul (serah-terima) dimana disana disebutkan tentang mahar dan juga mengenai persyaratan yang diajukan antara pihak (secara legal formal dikenal dengan perjanjian pra-nikah).



Wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pendapat, dan wanita gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin darinya". Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana izinnya ?"
Beliau menjawab : "Ia diam" [Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
Di dalam redaksi hadis lain beliau bersabda : "Dan izinnya adalah diamnya"
Redaksi hadis lain menyebutkan pula:
"Artinya : Dan perempuan gadis itu dimintai izin oleh ayahnya mengenai dirinya, dan izinnya adalah diamnya".

Diamnya seorang perempuan (gadis) diartikan setuju sebab jika tidak tentu ia akan menolaknya secara langsung maupun dengan perantara. Dan Ulama telah menganjurkan agar wali nya (orang tua atau wakilnya) untuk mengajarkan kaidah ini kepada seorang perempuan muslim sebelum menghadapi sebuah pinangan dari seorang lelaki.

mengenai saksi:
Tidak sah nikah seseorang kecuali dengan dihadiri wali dan dua orang saksi yang adil" [Hadits Riwayat Daruqutny]
"Pelacur adalah wanita yang menikah sendiri tanpa ada bukti (wali dan saksi)" [Hadits Riwayat At-Tirmidzi]

Dan Umar pernah mendapat laporan bahwa ada orang yang menikah hanya disaksikan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan, maka beliau berkata : "Demikian itu adalah nikah sirri (rahasia), sendainya aku menemuinya, maka aku akan merajamnya" [Hadits Riwayat Malik dalam kitab Al-Muwaththa']

Dan berdasarkan perkataan Ibnu Abbas : "Tidaklah suatu pernikahan dianggap sah bila tidak dilandasi bukti (wali dan saksi).

Setelah memaparkan hadits-hadits tentang wali dan saksi dalam pernikahan Imam At-Tirmidzi berkata : "Pendapat yang disepakati para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in adalah pendapat yang mengatakan bahwa wali dan saksi adalah syarat sahnya pernikahan, dan tidak syah pernikahan yang tidak dihadiri wali dan dua orang saksi yang adil". Dan pendapat ini sesuai dengan tujuan dari syari'at Islam, yaitu melindungi kehormatan, menjaga kemurnian nasab, menghalangi perzinaan dan kejahatan serta mengantisipasi terjadinya keretakan dalam kehidupan rumah tangga.

Tentang mahar telah dijelaskan dalam An-nisa 3 dan banyak lagi dalam al-Quran. Mahar dapat berbentuk barang ataupun jasa, telah masyhur hadis tentang seorang sahabat yang menikah dengan mahar mengajarkan beberapa Surah Al-Quran kepada calon istrinya, yang menjadi perhatian adalah apakah mahar itu diterima atau tidak oleh pihak perempuan ataupun walinya, karena jika tidak akan berakibat batalnya pernikahan.
Saya tidak tahu mahar itu wajib atau tidak namun Rasulullah telah bersabda:"Carilah, sekalipun cincin yang terbuat dari besi" . Ketika shahabat itu tidak menemukannya, maka Rasulullah menikahkannya dengan mahar "mengajarkan beberapa surat Al-Qur'an kepada calon istri"[Riwayat Bukhari].
Bahkan Rasul tidak membiarkan sahabatnya yang miskin papa itu untuk tidak memberi mahar kepada perempuan yang akan dinikahinya.

Sungguh sulit untuk menilai sebuah perkawinan dengan sudut pandang lainnya seperti budaya, tata nilai atau kaidah yg dianut sebuah komunitas ataupun dari sudut politik dan berbagai motifasi lainnya.

Kita melihat bahwa pernikahan dapat menjadi prestise yg tinggi bagi selir2 raja2 jaman dahulu, sebuah pernikahan dapat pula menjadi alat diplomasi yang mumpuni sebagaimana Cleopatra buktikan, dan sebuah perkawinan dapat pula menjadi alat kejahatan bagi expatriat pengedar heroin yang mengawini WNI untuk dijadikan bandar bayangan.

Garis merah dari semua yang telah saya katakan adalah, Wahai saudariku, kalian sebagai perempuan, jaga diri kalian baik2, pelajari pemikiran2 Kartini, Miliki keberanian tekad Cut Nyak Dien, dan akhlak Fatimah Azzahra RA, Dan yang utama adalah Be your self...Jadilah dirimu sendiri.

Itu artinya, wahai saudariku, kamulah yg bertanggung jawab atas hidupmu dan nasibmu, Jika kamu jatuh kejurang, itu adalah pilihanmu sendiri jangan salahkan jurangnya, jika kamu sampai saat ini masih juga berada dalam jurang itu, sekali lagi salahkan dirimu, bukan jurangnya.

----------------
reff utama:
http://almanhaj.or.id/
dan blognya Mba Rose.


  Komentar: 3 

roseheart   Rabu, 2 Agustus 2006 @ 11:18 WIB   
you're right
bisot   Rabu, 2 Agustus 2006 @ 11:24 WIB
thx vie....[:d]
(dudull.. soakrab banget gue nih...wkkkkkk)[b)]
oceph   Rabu, 2 Agustus 2006 @ 11:20 WIB 
kul...(baca: cool)...
bisot   Rabu, 2 Agustus 2006 @ 11:30 WIB
kul...artinya makan[:d]
cool..artinya makanan dingin[:d]

apapun itu pasti ada hubungannya dengan makanan[:d]
ade_mania   Rabu, 2 Agustus 2006 @ 11:40 WIB   
makasih masukannya om bisot...wew... lagi kesambet apaan nih ??
bisot   Rabu, 2 Agustus 2006 @ 12:24 WIB
kesambet mba roseheart wkkkkkkkkkkk[:d]

Klik untuk komentar