ngedumel pagi-pagi





Comment for editorial MIOL ttg Islamofobia;

saat yang katanya para pakar agama dari 53 negara berunding, berkelana dalam pemikiran masing2 dan tidur dihotel mewah dengan segala kenyamanan, peluru2 tetap saja dimuntahkan untuk mendongkrak naik saham para pemilik perusahaan mesin perang.

saat aku yang bodoh mencoba memahami bahasa tingkat tinggi dalam berbagai media dengan segala istilah yang hanya membuat aku percaya bahwa aku bodoh, bahasa paling gamblang dan paling primitif sedang digunakan untuk melenyapkan pribadi2 merdeka yang tidak mau dijajah dengan balutan kolonialisme berlabel demokratisasi.

Love it or leave it...

Terorisme. sebelum peristiwa 9/11 term terorisme mungkin hanyalah sebuah kata yang sarat dengan berbagai asosiasi yang merangkum berbagai tindak kekerasan yang bermuara pada tumbuhnya rasa takut atau rasa tidak aman. Walter Lacquer dalam bukunya the Age of Terrorism (1987) menyatakan bahwa ‘tidak akan mungkin ada sebuah definisi yang bisa mecakup ragam terorisme yang pernah muncul dalam sejarah.’ Bahkan paska 9/11 pendefinisian terorispun masih belum tercerahkan seperti dalam ungkapan Justice Power Stewart :” I can’t define it but I know when I see it.” (Vermonte, 2003 : 25). Masalah ini terungkap dengan baik dalam ungkapan “one person’s terrorist being another person’s freedom fighter.” (teroris bagi satu kelompok bisa berarti pejuang kemerdekaan bagi kelompok lain) (Widjajanto , 2003 : 11).


tapi sedikit demi sedikit, istilah teroris dikait2kan dengan agama yang seakan mendapat pembenaran saat bom demi bom yang seperti sinetron dengan sekuel2nya (konyolnya ngapain sih ngebom Bali sampai 2 kali???) menggiring pemahaman seakan terorisme terkait dengan Islam. mau bicara conspiracy theory yang memuakkan dan hanya akan berujung pada kebencian yang menyala namun tidak memiliki obyek pelampiasan tinggal menunggu picu untuk dimuntahkan (sebuah kans untuk mendeskriditkan Islam lagi). gak usah man, jadilah penonton yang paling setia mengikuti ploting dari sang sutradara. sebagai catatan, asal kita tahu diri aja dan menjaga diri supaya tidak menjadi pion gratisan yg mati konyol, lha iya, disposable slave man.... kerusuhan etnik madura dengan dayak ketika dikait2kan dengan agama, sulit ditrace dengan akal sehat, karena emosi (sentimen keagaman) sudah disulut. Please, Iqra bismirabikallazi khalak!!! kerusuhan Poso, masyarakat sana tahu ini hanya dagelan perebutan kedudukan Kepala daerah dan pemekaran kabupaten hingga...(kayaknya terlalu jauh maaf aku gak berani nulisnya). tapi apa ada orang yg bisa diam saja membiarkan akal sehat bicara jika keluarga kita yang mati???, konflik Ambon..., mulai engehyah kalau isu RMS lah pangkalnya, lalu kenapa di Aceh ada DOM sedang diambon tidak....this isbeyond of my thought.

mungkin kalo rakyat Indonesia sudah makmur, tak perlu lagi pusing dengan masalah survival, barulah masalah seperti ini dapat diungkap dengan lebih kritis (hal yg sangat tidak diinginkan oleh The Power must be).

seorang activist amerika mutakhir atas nama humanisme pernah berteriak(bahasa inggrisnya lupa nih)"kenapa tidak kita ganti saja 50 bintang kecil dibendera kita (Amerika) menjadi hanya satu....The Star of David", terlebih ketika rekannya diBulldozer oleh tentara Israel.wkkkkkkkkk..... "bugil" juga tuh orang. rasanya "the patriot act" belum sampe ditangan congress saat itu.

bottom line dari ocehan pagi karena belum sarapan diatas itu, like or dislike, hanya ada satu kekuatan yang dapat membendung penjarahan oleh The power must be, dan itu bukan nasionalisme sempit, in this age bicara nasionalisme dalam arti teritorial akan kehilangan makna karena globalisasi sudah sampai pada persiapan era pasar bebas, free trade zone, free trade area yang hanyalah pondasi awal dari satu kawasan dengan batas negara yang samar, di ASEAN sendiri visa aja kayaknya udah gak dipaketuh. jika bukan nasionalisme lalu apa? satu2nya hanyalah universalitas Islam, kita tidak lagi bicara warga negara irak atau palestina yg mati, atau WN ethiopia yang kelaparan, Muslimin secara ideal sedang membicarakan saudara mereka, tidak perduli warga negara apa, warna kulit apa karena mereka satu, one united world-under God (kata mike tramp "white Lion") berhadapan dengan The power must be, dan hal ini bukan berita dongeng yang sejak jauh hari telah diperingatkan oleh sang KALKY AUTAR Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan melalui hadis Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhum. lucunya banyak muslim yang tidak mempercayai hadis itu (acuh dsb), sebaliknya di Israel telah banyak pemukim yahudi yang menanam pohon Gharqad (sebuah pohon berduri yang dikenal dikalangan bangsa Yahudi)karena mereka mendengar hadis ini dari rabi mereka. Tidak kah kau lihat saudaraku, bahkan para rabi yahudi percaya kebenaran kata2 Muhammad SAW tentang pohon yang akan menjadi tempat perlindungan mereka. (seingatku info ini dulu aku baca dari emailnya mahenknih, masih nyimpen gak om???)

------------------------------------------------
(refference-nya menyusul bro, kalo dapet)

banyak baca www.davidduke.com dunk kalo sempet

atau mau iseng2 ngulik, ketik di Google dengan kata kunci:

Jonathan Pollard;
Lavon Affair;
Eric Margolis;
Goldman-Sachs;
Alon Pinkas;
William McGonagle;
Ostrovsky, V. The Other Side Of Deception;

wkkkkkkk rasain sekarang malah diajak browsing.

Klik untuk komentar