Hotel CIPUTRA MEI 2006

saat ini anton duduk dibarisan paling depan, workshop tentang HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL rupanya banyak menarik perhatian peserta lainnya namun tidak bagi anton, dia hanya tersenyum kecut dan sesekali mengkrenyitkan dahi mencoba memahami cara pandang para pemateri dengan titel yang tidak dapat dipahaminya.
"mungkin saat para pembajak dinusantara telah belajar banyak tentang teknologi, orang-orang ini sedang berkutat dengan buku-buku dan diktat kuliah" pikiran anton mulai menyulut profokasi alam sadarnya. anton mencoba mengingat terakhir kali ke Glodok, ngapain ke Glodok disetiap stasiun kereta juga selalu ada penjaja DVD Bajakan kok.
**********

"mas sudah waktunya makan siang...", tergagap anton mengumpulkan kesadarannya.
"oh...yah, terima kasih", jawabnya sambil tersenyum pada panitia yang manis dan modis.
suasana ballroom hotel yang megah telah menina bobokannya hingga seperempat jam, sejuknya ruangan dan rasa lapar berhasil menenggelamkan suara tenor nyonya presenter dan mengalahkan tampilan materi yang dibumbui trick-trick untuk
menjaga audience tetap tertarik.
*********

pikiran anton menari dalam hembusan asap rokok, lambungnya sudah tenang mencerna berbagai ragam sajian yang tidak mungkin didapatkannya dalam buku resep istrinya. ia menikmati kesendirian, rasa yang hampir ia lupakan. ingatannya berselancar liar dalam gelombang ingatan dan mengantarnya pada kepingan-kepingan kenangan dimana ia pernah merasakan perasaan serupa. setiap ornamen, benda, bahkan suara-suara obrolan yang samar ia dengar menyatu dengan jiwanya.
sebagai midle management di sebuah instansi pemerintah telah memberinya kesempatan untuk berkeliling hotel dalam maupun luar negeri sebagai peserta rapat, sosialisasi, workshop, seminar dan sejenisnya.

anton merapihkan tumpukan dokumen yang ia bawa, memasukkannya dalam map bermotif batik yang ia dapatkan pada rapat dengan salah satu instansi pemerintah. ia membalikkan materi workshop dan mulai menggambar abstrak pada halaman belakang yang kosong, menuliskan grafitti yang terlintas di benaknya. sesekali ia memperhatikan wajah-wajah para peserta pelatihan yang tampak serius mengikuti acara.
anton menatap tajam , mencoba untuk memahami tampilan presentasi, namun matanya seakan menerobos layar presentasi. suara tenor nyonya presenter sama sekali tidak dapat membantu, penggunaan istilah-istilah dan kalimat-kalimat otoratif membuat anton bersitegang dengan pikirannya, karena memorinya sama sekali tidak memberi referensi apapun mengenai istilah-istilah yang ditangkap telinganya.

anton menarik nafas panjang, matanya terpaku menatap cahaya lembut lampu crystal di tengah ruangan. cahaya itu bagai gerbang masuk kedunia terang benderang...yah seperti serangga yang mengelilingi lampu pijar di halaman rumah
pada musim hujan.

"maaf bu, sepertinya ibu terlau cepat menjelaskan, saya frustasi, apa bisa menjalankannya sendiri tanpa bantuan ibu nantinya', seorang peserta menginterupsi.

"oh yah,..kasihan deh bapak", jawab nyonya presenter menebar senyum, namun lelucon itu menguap dalam bisunya keseriusan peserta. selanjutnya nyonya presenter mulai mengendurkan tekanan pada pita suaranya.

"nyonya presenter itu sangat yakin dengan apa yang di katakannya" pikir anton dengan tatapan skeptis. "ah kira-kira bagi dia kami ini dianggap apa yah..."

seiring waktu yang merayap lambat....setiap menitnya, setiap detiknya semakin menenggelamkan kesadaran anton. denyut kesadaran mencoba menggeliat meresonansikan getaran-getaran nikmat dari otak kecil, melegakan rongga nafas.

perlahan secara pasti....anton melayang dalam buaian mimpi.
****************

"papah kok sertifikat dipakai untuk membungkus kue?", tanya sang istri sambilmengecilkan suara televisi.
"oh ...itu, tadi aku bawa dari hotel, saat coffebreak aku ingat anak-anak sangat suka kue lapis, saat selesai acara aku lihat masih banyak sisanya", jawab anton sambil menggeliatkan badannya untuk menyamankan dirinya yang sudah mulai mendekati pintu mimpi lainnya.

SANG ISTRI terdiam menelan bulat-bulat jawaban suami yang ia banggakan.

**************
Hotel CIPUTRA MEI 2006

Klik untuk komentar